DENPASAR, Balijani.id | Komitmen kerja sama regional antara Provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) kini memasuki babak baru yang semakin konkret. Kerja sama yang mengusung kembali spirit dan semangat historis “Sunda Kecil” ini dimatangkan melalui serangkaian pertemuan maraton di ketiga wilayah tersebut sejak akhir tahun lalu hingga awal tahun ini.
Langkah monumental ini diawali dengan pertemuan pertama yang digelar di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Bali, pada 3 November 2025. Sinergi kemudian berlanjut melalui pertemuan kedua di NTB pada 25 November 2025, sebelum akhirnya dirampungkan dalam pertemuan ketiga di NTT pada 28 Januari 2026.
Sektor Krusial dan Fondasi Historis “Sunda Kecil”
Rangkaian pertemuan strategis tersebut menargetkan kolaborasi di sejumlah sektor krusial, meliputi pengembangan energi bersih, integrasi sistem transportasi, penguatan sektor pariwisata, serta pelatihan peningkatan kapasitas SDM aparatur sipil negara. Format kemitraan ini dikemas dengan pola baru yang sepenuhnya adaptif terhadap regulasi dan perundang-undangan yang berlaku saat ini.
Secara historis, Bali, NTB, dan NTT sempat berada dalam satu payung administrasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 pada masa Republik Indonesia Serikat (RIS) dan UUDS 1950. Meskipun saat ini ketiga wilayah telah diatur oleh undang-undang pembentukan tersendiri, ikatan historis tersebut tetap dirawat sebagai fondasi koridor kerja sama regional demi kemajuan bersama.
Menjembatani Perbedaan demi Kesejahteraan Rakyat
Keberhasilan menyatukan visi ini terbilang istimewa mengingat karakteristik ketiga provinsi yang sangat kontras, baik dari aspek sosiokultural maupun peta politik praktis. Secara demografis, Bali mayoritas berpenduduk Hindu, NTB didominasi umat Islam, sementara NTT merupakan wilayah dengan mayoritas masyarakat beragama Kristen.
Di panggung politik, ketiga kepala daerah juga berasal dari bendera yang berbeda. Gubernur Bali merupakan Ketua DPD PDI Perjuangan, Gubernur NTB menjabat sebagai Ketua DPD Partai Gerindra, sedangkan Gubernur NTT adalah Ketua DPD Partai Golkar.
Kendati dipisahkan oleh perbedaan latar belakang partai politik dan keyakinan, hal tersebut tidak menjadi pembatas. Kerja sama regional Bali, NTB, dan NTT ini justru membuktikan bahwa perbedaan tersebut dapat dijembatani oleh semangat yang sama: mengutamakan kepentingan rakyat melalui sinergi nyata guna mendongkrak kesejahteraan, kualitas, dan daya saing kawasan secara berkelanjutan dalam menghadapi dinamika nasional maupun global.
[ Editor : Sarjana ]
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana













