Gubernur Koster: Bali Siap Jadi Laboratorium Dunia untuk Pertanian dan Pariwisata Berbasis Budaya

Balijani.id, 3 Jul 2026, 09:12 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat menerima audiensi dan draf undangan dari Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana I Putu Sudiarta di Kantor Gubernur

Denpasar, Balijani.id | Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan bahwa pembangunan sektor pertanian di Pulau Dewata tidak boleh lagi hanya menjadi pelengkap atau sekadar komoditas pariwisata. Sebaliknya, pertanian harus berjalan seiring dan terintegrasi dengan pariwisata berbasis budaya, sehingga para petani dapat merasakan manfaat ekonomi yang nyata dan berkeadilan.

Hal tersebut disampaikan Koster saat menerima audiensi Forum Komunikasi Fakultas Pertanian Wilayah Indonesia Timur di Kantor Gubernur Bali, Kamis (2/7).

Dalam pertemuan itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana, I Putu Sudiarta, mengundang secara langsung Gubernur Koster untuk menjadi keynote speaker dalam Lokakarya dan Seminar Nasional Pertanian yang akan digelar pada 23 Juli mendatang. Acara berskala besar ini diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 90 dekan fakultas pertanian dari seluruh wilayah Indonesia Timur.

Integrasi Adil Antara Pertanian dan Pariwisata

Gubernur Koster menilai tema integrasi pertanian dan pariwisata berbasis budaya yang diangkat dalam forum tersebut sangat relevan dengan realitas Bali saat ini. Ia menyoroti fenomena di mana keindahan kawasan pertanian kerap dieksploitasi sebagai daya tarik wisata, namun belum memberikan dampak kesejahteraan yang sebanding bagi para pemilik lahan.

“Banyak fasilitas pariwisata yang mengeksploitasi keindahan kawasan pertanian. Selain sebagai penyangga ketahanan pangan, kawasan pertanian juga menjadi objek wisata alam. Karena itu harus dikemas dengan baik agar petani memperoleh manfaat. Kalau hanya dilindungi tanpa peningkatan pendapatan petani, itu tidak adil,” tegas Koster.

Pertanian Bali yang Kaya Tradisi dan Spiritual

Lebih lanjut, Koster memaparkan bahwa kekuatan utama Bali terletak pada sistem pertaniannya yang menyatu erat dengan budaya, tradisi, dan spiritualitas melalui konsep kearifan lokal. Di Bali, aktivitas bertani bukan sekadar bercocok tanam secara teknis, melainkan sebuah siklus kehidupan yang diiringi oleh rangkaian upacara adat dari masa pembibitan hingga panen. Jati diri yang kuat inilah yang dinilai Koster sangat diminati oleh masyarakat global saat ini.

Komitmen Bali terhadap sektor ini bahkan telah dipresentasikan Koster di forum internasional di London, salah satunya mengenai Peraturan Daerah tentang Pertanian Organik yang menjadi satu-satunya regulasi sejenis di Indonesia. Dengan keunikan dimensi sosial, budaya, dan spiritual tersebut, ia optimis Bali akan bertransformasi menjadi pusat perhatian ilmiah.

“Kita di Bali tidak perlu lagi mencari jati diri karena sudah memilikinya sejak dahulu. Tinggal digali dan diperkuat kembali. Saya yakin Bali akan menjadi laboratorium studi dunia untuk kearifan lokal karena ilmu seperti ini hanya ada di Bali,” pungkasnya.

[ Editor : Sarjana ]

Trending Video Short Populer
Lihat Semua →
Editor: Nyoman Sarjana

Tinggalkan Balasan

WhatsApp Kirim Opinimu
💬 Kirim Opini Pembaca
Suara Anda penting bagi kami! Tuliskan opini atau artikel pembaca, dan kirimkan langsung via WhatsApp Redaksi Balijani.
1 Berita Terbaru