Buleleng, Balijani.id | Pura Agung Bungkulan yang berada di Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, dikenal sakral karena menyimpan tinggalan arkeologis kuno. Sumber lokal dan daftar cagar budaya Buleleng mencatat adanya arca arca seperti Siwa Mahaguru, Ganesha, Lingga, serta Arca Pendeta yang terkait dengan Pura Agung di Bungkulan. Keberadaan benda-benda kuno inilah yang membuat pura ini dipandang istimewa dan sangat dihormati oleh masyarakat setempat.
Secara historis, Bungkulan juga disebut memiliki jejak Bali Kuna yang kuat. Salah satu sumber kajian menyebut adanya bangunan suci Baleswara di Bungkulan dalam Prasasti Sembiran, yang dikaitkan dengan pemuliaan leluhur raja. Karena itu, Pura Agung Bungkulan tidak hanya berfungsi sebagai tempat sembahyang, tetapi juga sebagai situs yang menyimpan memori sejarah dan arkeologi Bali.
Tim Redaksi balijani.id berhasil memawancarai I Gusti Bagus Mangku Dalang Sudiasta selaku Purwataka Pura Agung pada hari Minggu (21/6/2026), beberapa poin yang membuat Pura Agung Bungkulan berbeda dan sakral adalah:
-
Menurut Aji Pura Agung, bagian paling sakral dari pura adalah area tengah yang memiliki dua pelinggih utama.
-
Di dalam pelinggih tersebut terdapat arca (patung) Siwa Mahaguru yang menjadi pusat kesakralan pura.
-
Arca dan pelinggih tersebut telah diteliti oleh Balai Arkeologi Bali dan pihak arkeologi pusat.
-
Hasil penelitian menunjukkan bahwa arca yang ditemukan di Pura Agung diperkirakan berasal dari abad ke-7 Masehi.
-
Dalam prasasti yang disebutkan oleh Aji Pura Agung, terdapat keterangan mengenai tahun Śaka 897, yang berkaitan dengan perintah untuk memelihara tempat pertapaan yang dikenal sebagai Siwa Mahaguru.
-
Keberadaan pelinggih Siwa Mahaguru menjadi keunikan utama Pura Agung Bungkulan yang tidak ditemukan di tempat lain di wilayah Bungkulan.
-
Setelah diketahui keberadaan Pura Agung sebagai pusat kesucian wilayah, masyarakat Bungkulan tidak membangun griya seperti yang terdapat di beberapa desa lain.
-
Pura Agung Bungkulan diyakini sebagai salah satu pura tertua di wilayah Bungkulan, sehingga memiliki tata cara dan tradisi keagamaan yang berbeda.
-
Menurut Aji Pura Agung, karena kesakralan dan kedudukannya yang sangat tua, terdapat aturan adat tertentu, termasuk tidak menggunakan sulinggih dalam pelaksanaan upacara tertentu karena sudah ada tradisi kepemangkuan yang diwariskan turun-temurun.
Sementara I Gusti Bagus Nyoman Purnama Japa, yang juga sebagai Purwataka mengatakan salah satu bukti penting yang menunjukkan nilai historis Pura Agung Bungkulan terdapat dalam Prasasti Sembiran, khususnya pada bagian yang menyebut sebuah wilayah bernama Balei Suara yang berada di Dharmakuta, Banua Bungkulan. Pada masa pemerintahan Sri Janasadhu Warmadewa, masyarakat Julah diperintahkan untuk menjaga wilayah tersebut dari serangan perompak maupun pihak yang berpotensi mengganggu keamanan kawasan suci tersebut.
Wilayah Balai Suara dianggap sangat penting karena berfungsi sebagai pusat aktivitas spiritual kerajaan pada masa itu. Keberadaan situs ini kemudian menjadi perhatian berbagai peneliti, mulai dari Dr. Goris pada masa kolonial Belanda hingga Prof. Brigitta Hauser-Schäublin dari Jerman pada era modern. Keduanya merujuk pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa Balei Suara yang disebut dalam prasasti diyakini berada di kawasan Pura Agung Bungkulan saat ini.
Istilah Balai Suara dalam interpretasi Jawa Kuno dikaitkan dengan Siwa Mahaguru. Hal ini diperkuat dengan keberadaan arca Siwa Mahaguru yang hingga kini masih tersimpan di area utama pura. Menurut Prof. Brigitta Hauser-Schäublin, arca tersebut memiliki kemiripan yang sangat kuat dengan arca Siwa Mahaguru dari masa Kerajaan Medang atau Mataram Kuno di Jawa.
Selain arca Siwa Mahaguru, di kawasan pura juga ditemukan arca Ganesha yang memiliki bentuk khas dan unik. Arca tersebut menggunakan mahkota dengan ornamen khusus serta rambut yang diikat menyerupai kerucut. Di area yang sama juga terdapat beberapa arca lain yang diduga menggambarkan Durga Mahisasuramardini dan Dwarapala, meskipun sebagian kondisinya sudah tidak utuh.
Keunikan terbesar Pura Agung Bungkulan terletak pada adanya unsur akulturasi antara tradisi Siwaisme dan Buddha Mahayana. Hal ini terlihat dari susunan arca-arca yang ditemukan di kawasan pura. Arca bercorak Siwaistik seperti Durga, Siwa Mahaguru, dan Ganesha ditempatkan di bagian tengah kawasan suci, sementara keberadaan arca yang diduga Dwarapala menunjukkan adanya pengaruh tradisi Buddha.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa Pura Agung Bungkulan bukan hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat Hindu Bali, tetapi juga merupakan situs penting yang merekam perkembangan spiritual, budaya, dan sejarah Bali Kuno. Keberadaan Balai Suara yang disebut dalam prasasti, ditambah dengan koleksi arca kuno yang masih tersimpan hingga saat ini, menjadikan Pura Agung Bungkulan sebagai salah satu warisan sejarah dan keagamaan yang memiliki nilai tinggi di Bali Utara.
[ Editor : Beryll ]
Kredit Editorial
- Editor: Beryl













