Buleleng, Balijani.id| Penataan kawasan titik nol Singaraja kini memasuki tahap penting setelah Pemkab Buleleng memulai proses pembenahan utilitas bawah tanah sebagai bagian dari rencana besar kawasan heritage kota. Program yang mencakup area Patung Singa Ambara Raja hingga Taman Makam Pahlawan Curastana ini kembali mendapat dukungan politik, namun juga catatan kritis dari wakil Ketua DPRD Kabupaten Buleleng yang juga Ketua DPD Partai NasDem Kabupaten Buleleng, Made Jayadi Asmara.
Sebelum memberikan tanggapan, Jayadi menilai penataan titik nol adalah langkah yang tepat untuk memperbaiki wajah pusat kota. Ia menyampaikan dukungan penuh terhadap upaya mempercantik Singaraja, terutama melalui penataan utilitas yang dinilai sudah mendesak. Namun, ia memberi sorotan khusus pada rencana desain kantor Bupati Buleleng yang direncanakan menghadirkan ruang terbuka hijau di dalam kawasan tersebut.
“Setuju pembangunan kawasan titik nol dalam upaya mempercantik kota Singaraja, namun rencana pembangunan kantor bupati Buleleng dengan desain akan disertakannya ruang terbuka hijau tentu layak untuk dikaji kembali mengingat kantor bupati merupakan fasilitas vital yang harus dijaga keamanannya,” ujar Jayadi.
Ia menegaskan bahwa kantor bupati tetap harus mengutamakan fungsi keamanan.
“Kantor bupati tempat masyarakat mendapatkan pelayanan namun juga simbol negara di daerah, meskipun bisa diakses masyarakat namun desainnya tidak boleh melepaskan aspek keamanan,” tegasnya.
Penataan ini diharapkan tidak hanya mengubah wajah kota, tetapi juga menciptakan tata ruang yang lebih aman dan terukur. Catatan dari Wakil Ketua DPRD Kabupaten Buleleng yang juga Ketua NasDem Buleleng, fraksi Partai Nasdem DPRD Kabupaten Buleleng sekaligus mengingatkan bahwa transformasi kota harus tetap memperhitungkan aspek keamanan fasilitas vital pemerintah.
[ Reporter : Sarjana ]







