Buleleng, Balijani.id ~ Lontar Purwa Bhumi Kemulan adalah salah satu karya sastra penting dalam tradisi Hindu Bali yang menggambarkan pandangan kosmologis masyarakat Bali tentang alam semesta. Diperkirakan berasal dari abad ke-17 hingga ke-18, lontar ini merupakan bagian dari warisan budaya Bali yang berfungsi sebagai panduan hidup spiritual bagi umat Hindu Bali, serta cara untuk menjaga dan meneruskan pengetahuan yang bersifat sakral dan moral dalam bentuk tulisan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kosmologi dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan menggambarkan pembagian alam semesta dalam tiga bagian utama yakni swarga (surga), bhuwana (bumi), dan patal (neraka). Setiap tingkatan ini dipandang sebagai ranah yang saling berhubungan dan mempengaruhi satu sama lain. Swarga adalah dunia para dewa, tempat kedamaian dan kebahagiaan abadi. Bhuwa, atau bumi, merupakan tempat kehidupan manusia dan segala makhluk hidup lainnya. Sementara itu, patal merupakan dunia bawah, tempat para roh jahat dan makhluk halus yang dihukum.
Dalam kosmologi ini, terdapat juga pemahaman tentang Tri Purusha menekankan terkait Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan penghancur dunia. Brahma, sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, dan Siwa sebagai penghancur. Ketiganya berfungsi dalam harmoni, menjaga keseimbangan alam semesta dan siklus kehidupan.
Lebih dalam lagi, kosmologi dalam lontar ini menggambarkan hubungan erat antara manusia dengan alam semesta. Konsep Dewata Nawa Sanga atau sembilan dewa penjaga arah menjadi simbol pengaturan alam semesta yang harmonis. Setiap arah diwakili oleh dewa yang memiliki tugas menjaga keseimbangan di dunia ini. Manusia, sebagai bagian dari alam, harus hidup selaras dengan hukum alam dan hukum Tuhan, menjaga dharma atau kebenaran.
Lontar Purwa Bhumi Kemulan juga menyentuh konsep reinkarnasi, yang memandang kehidupan sebagai siklus berkelanjutan antara kelahiran, kehidupan, kematian, dan kelahiran kembali. Dalam pandangan ini, tindakan dan perbuatan manusia di bumi mempengaruhi nasib mereka di kehidupan berikutnya, baik itu di suarga, bumi atau neraka.
Penting juga untuk dicatat bahwa dalam lontar ini ada peringatan tegas mengenai pentingnya menghormati leluhur dan menjaga hubungan yang baik dengan mereka. Dikatakan bahwa siapa pun yang melupakan leluhur mereka, yang tidak menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka, akan dikenakan kutukan.
Kutukan ini bisa berwujud dalam berbagai bentuk penderitaan, baik dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang akan datang. Ini menjadi pengingat bagi umat Hindu Bali untuk tidak melupakan asal-usul mereka dan tetap menjaga nilai-nilai yang telah diturunkan oleh leluhur, sebagai bagian dari keharmonisan kosmos dan kesejahteraan hidup di dunia.
Secara keseluruhan, kosmologi Hindu dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan mengajarkan tentang keterkaitan antara segala yang ada di alam semesta, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Ini adalah pandangan yang menekankan pentingnya menjaga keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan, serta menjalankan dharma sebagai kewajiban hidup yang akan membawa kesejahteraan di dunia dan akhirat.
[ Editor : Nyoman Sarjana ]








