News  

Yayasan Cinta Anak Bunda Dorong Transformasi Warga Binaan di Lapas Singaraja

Balijani.id, 11 Nov 2024, 23:44 WIB

Singaraja, Balijani.id ~ Yayasan Cinta Anak Bunda, yang dipimpin oleh Ni Nyoman Ratna Widiasmini, melakukan kunjungan ke Lapas Kelas IIB Singaraja pada hari Senin (11/11). Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan emosional dan edukasi bagi 22 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) perempuan. Dalam pertemuan tersebut, Kepala Lapas IIB Singaraja, I Gusti Lanang Agus Cahyana Putra, A.Md.IP., SH., M.Si., menyampaikan kondisi lapas yang menghadapi masalah serius terkait over kapasitas.

Kalapas menjelaskan bahwa kapasitas ideal lapas sebenarnya hanya sekitar 100 orang, namun saat ini terisi oleh 317 WBP. Situasi ini membuat ruangan yang dirancang untuk lima orang harus diisi hingga tiga kali lipat dari kapasitas normal, yaitu 15 orang per ruang. Menurut Kalapas, kondisi ini sangat mempengaruhi kondisi sosial dan emosional para WBP.

“Ruangan yang seharusnya diisi lima orang, kini harus menampung 15 orang. Kondisi ini tentu memicu ketegangan dan stres yang berpotensi menimbulkan konflik antar-tahanan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, Ni Nyoman Ratna Widiasmini menyampaikan pandangan mengenai pentingnya program transformasi yang dapat mendukung perubahan positif bagi para WBP. Baginya, lapas seharusnya menjadi tempat yang tidak hanya memberikan sanksi, tetapi juga memfasilitasi perubahan ke arah yang lebih baik. Salah satu pendekatan yang diusung Yayasan Cinta Anak Bunda adalah pemberian edukasi emosional melalui metode khusus, yang diyakini dapat membantu WBP dalam menghadapi tekanan hidup di lapas.

“Kami mencoba menghadirkan program spiritual dan emosional untuk mendukung proses ini,” ucap Ratna.

Dalam upaya mendukung kesehatan mental WBP, Ratna memperkenalkan Emotional Freedom Technique, yaitu metode untuk mengelola emosi yang diyakini mampu membantu WBP mengurangi rasa marah dan stres. Teknik ini memungkinkan para tahanan untuk perlahan-lahan menerima kondisi yang mereka hadapi.

“Metode ini dapat membuat mereka menerima kondisi saat ini dengan lebih baik, menurunkan stres secara bertahap, dan meningkatkan imunitas mental mereka,” jelasnya.

Kalapas juga membagikan pengalamannya saat bertugas di Lapas Cirebon, Jawa Barat, di mana program psikoterapi khusus diberikan kepada para tahanan baru agar lebih mudah beradaptasi di lingkungan lapas. Dengan adanya sesi pengenalan lingkungan ini, para tahanan mendapatkan pemahaman awal tentang aturan dan kebiasaan di dalam lapas, sehingga transisi mereka dari masyarakat umum ke kehidupan di lapas dapat berjalan lebih lancar.

“Di Lapas Cirebon, ada psikoterapi untuk tahanan baru. Hal ini membantu mereka menghadapi masa transisi dengan lebih baik dan mengurangi tingkat ketegangan,” ujarnya.

Selain memberikan dukungan emosional, Yayasan Cinta Anak Bunda juga berencana menyediakan bantuan dalam bentuk pemberian makanan ringan untuk para WBP sebagai bentuk perhatian. Ratna mengapresiasi langkah Kalapas yang melibatkan media sebagai sarana untuk menginformasikan bahwa banyak kegiatan positif yang berlangsung di balik dinding lapas. Ia berharap masyarakat dapat lebih terbuka dan peduli terhadap WBP yang tengah berusaha memperbaiki diri selama masa pembinaan.

“Kami ingin agar masyarakat juga turut peduli, melihat bahwa saudara kita yang berada di dalam lapas masih berupaya memperbaiki diri dan siap kembali berkontribusi positif bagi masyarakat,” tuturnya.

Kegiatan ini tidak hanya diharapkan membantu WBP secara langsung, tetapi juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam mendukung para WBP agar mereka diterima kembali dengan baik setelah menyelesaikan masa pidana mereka.

[ Reporter : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru