Elektabilitas Demokrat Meroket, Simak Kata Mudarta!

Balijani.id, 11 Nov 2022, 04:11 WIB

Denpasar, Balijani.id ~ Hasil Survey Y-Publica mengungkapkan bahwa, elektabilitas Partai Demokrat menguntit di posisi kedua dengan perolehan 11, 5 persen menyalib Gerindra 11, 1 persen di posisi 3 besar. Sementara PDIP tetap kokoh di posisi pertama dengan capaian 18,4 persen.

Menyikapi tren naiknya elektabilitas Partai Demokrat sesuai hasil survei Y-Publika tersebut, Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Bali, I Made Mudarta menjelaskan,

“Pergerakan Partai Demokrat terus naik, sementara partai penguasa ini kan trendnya turun, bisa dibaca di beberapa lembaga survei yang mengekspose hasilnya. Demokrat ada di posisi 2 besar menyalib Gerindra. Ini pertanda memang musimnya berubah, arah angin bergeser. Kira-kira sekarang ini arah anginnya ke berwarna biru. Negara demokrasi maju seperti di Indonesia ini demokrasinya 4 besar di dunia. Yaitu akan cenderung mengikuti pola ini, apalagi kan sekarang rakyat merasakan bagaimana pemerintah menangani pandemi Covid, bagaimana juga stabilitas politik, pengamanan begitu juga ekonomi, jumlah hutang Indonesia yang jumlahnya begitu signifikan/besar. Di dalam kondisi rakyat sulit dengan pandemi Covid, pemerintah menggenjot infrastruktur. Keselamatan rakyat sementara dinomor duakan. Demokrat konsisten berada di oposisi selama 8 tahun lebih. Partai demokrat berada di jalur yang tepat. Fungsi check and balance, fungsi pemerintah yang memang bagus, pro rakyat kita dukung tapi kalau tidak ada yang pro rakyat, merugikan rakyat kita akan kritisi. Jadi kritik demokrat sifatnya membangun untuk kepentingan bangsa, dengan masyarakat,” papar I Made Mudarta saat dimintai tanggapannya di Kantor DPD Partai Demokrat Provinsi Bali, Kamis, (10/11/2022).

Lanjut Mudarta,”Partai Demokrat dipimpin oleh AHY (Agus Harimurti Yudhoyono, red) berada pada jalur yang tepat, salah satu ketua umum dari kelompok milenial. Jadi ini yang terdepan memang, harus suara mendukung dari kelompok milenial. Kalau kita lihat tidak hanya dari temuan trend survei, tapi kalau kita tanya pada masyarakat dimana pun kita berada rakyat itu mengharapkan perubahan dan perbaikan. Perbaikan bisa dilakukan manakala adanya perubahan, sebab kalau tetap, kan tidak mungkin berubah. Masyarakat mayoritas mengharapkan perubahan, yang bisa melakukan perubahan itu adalah oposisi. Dimana partai oposisi itu Partai Demokrat. Inilah yang akan sanggup melakukan perbaikan dan perubahan di Indonesia. Terkhusus Partai Demokrat, bisa dibandingkan capaiannya Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono, red) selama 10 tahun dengan capaian Pak Jokowi hari ini, berdasarkan fakta bisa di cek ya. Kita transferan dari Ibu Mega ke Pak SBY berapa APBN nya sekitar 500 trilliun ya, sudah itu ketika di transfer kekuasaan dari Pak SBY ke Pak Jokowi berapa itu hampir 2.000 trilliun hampir naik dia melompat empat kali lipat. Kalau Pak Jokowi bisa melaksanakan ini dengan bagus, ekonomi kita tumbuh seperti yang dijanjikan dari 2.000 kalau melompat kita empat kali lipat harusnya kan 8.000 trilliun yang ditransfer kepada pemerintah Presiden yang ke 8. Itu idealnya, tapi untuk mencapai angka tersebut berat. Untuk menjadi dua kali lipat saja jadi 4.000 trilliun, nanti di ujung 20 Oktober 2024 itu agak sulit. Sekarang melihat ekonomi kita agak berat, apalagi krisis yang akan melanda dunia di 2023. Jadi trend keinginan rakyat Indonesia itu adalah perubahan dan perbaikan,” terang Mudarta.

Perubahan yang diinginkan masyarakat itu menurut Mudarta,

“Itu hanya bisa dijawab oleh AHY, tapi kalau masyarakat tetap mengharapkan seperti hari ini ekonominya jalan di tempat. Kecenderungan juga berat dan seterusnya, sosial masyarakat terbelah juga antara kampret, cebong, kadrun dan seterusnya ya silahkan dilanjutkan. Tapi kalau ingin perbaikan perubahan, pilihlah Partai Demokrat,” imbuh Mudarta.

Sembari melanjutkan, “Pilihlah calon Presiden yang AHY ikut berkonsekrasi. Tentu yang bisa menjawab perubahan itu tokoh Pak Anis, karena itu kan yang disorot oleh para bussernya atau para penguasa hari ini. Yang diserang kan Pak SBY, Pak AHY, dan Pak Anies. Kelompok-kelompok inilah kalau bisa bersatu jadi bisa menjawab keinginan masyarakat Indonesia jadi lebih baik. Saya usulkan nama pasangannya ini BAGUS (Anies Baswedan dan Agus Harimurti Yudhoyono) untuk Indonesia lebih baik,” ungkap Mudarta.

Dikatakan lebih lanjut, “Kalau kita hari ini, fokus kita ke Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif. Karena jumlah kursi untuk yang mendaftar ke KPU seperti Calon Gubernur, Calon Bupati itu kan hasil Pemilu 14 Februari 2024. Kita akan lihat disitu, manakala rakyat memberi kepercayaan penuh kepada Partai Demokrat, kemudian kursinya bertambah amanah rakyat ini kan harus dijalankan disitu akan ada posisi. Rakyat Bali itu mengharapkan juga siapa Gubernur nanti. Memang temuan survei hari ini Pak Koster belum ada yang mengalahkan, beliau di atas 40 persen. Sementara yang lain kan dibawah itu. Kisaran angka 5 ada 7 ada 3 jadi dibutuhkan memang paling cepat terjadi tsunami politik baru bisa kira-kira mendekati survei tingkat kepuasan masyarakat terhadap Wayan Koster. Tapi survei utamanya ketika habis Pemilu 14 Februari 2024, siapa tokoh-tokoh yang menjadi DPR/RI dan seterusnya. Ini harus menjadi catatan penting Partai Demokrat agar jangan beda pendapat dengan masyarakat. Apa yang menjadi harapan masyarakat Bali itu yang diperjuangkan oleh Partai Demokrat, “tutur Mudarta.

Wawancara ini dilakukan, bertepatan bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan 10 November 2022, karena itu Mudarta menyampaikan,

“Pesan untuk hari pahlawan sebagai kaum milenial dari AHY kita bisa merdeka karena pahlawan, para pendahulu kita tidak hanya waktu, tenaga, uangnya dikorbankan, tapi juga nyawa dikorbankan agar kita bisa merdeka. Kita sudah merdeka 77 tahun. Mari isi dengan mewujudkan cita-cita leluhur para pahlawan kita. Mari cerdaskan kehidupan bangsa demi keadilan dan kesejahteraan. Ini yang menjadi perjuangan kita bersama. Jangan kemudian saling menghina, saling mencaci, manakala diri kita menyebut Pancasila. Kita adalah Bhineka Tunggal Ika, tapi terus kita menggoreng sebuah agama. Negara-negara yang menggoreng sebuah agama dalam politik negaranya tidak maju-maju. Kalau terus masih bermain di cluster issue agama dan seterusnya itu kita tinggalkan. Mari kita pilih tokoh-tokoh yang membuat gagasan dan memiliki program yang jelas, track recordnya juga dilihat sudah dilakukan dan apa yang dijanjikan. Demokrat menolak hal seperti itu, karena demokrat memiliki gagasan, anak milenial juga lebih cenderung kesana. Siapa yang memiliki gagasan yang hebat, clear dan pruden bisa menuju kesana,”tandas Mudarta.

[ BJ/NS ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru