News  

Lepas 13 Ribu Mahasiswa ke Desa, Koster: Jangan Cuma Seremonial, Jadilah Problem Solver!

Balijani.id, 15 Jul 2026, 14:10 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat memberikan sambutan pelepasan belasan ribu mahasiswa pengabdian masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera di Ardha Candra

DENPASAR, Balijani.id | Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, tampak membiru dan penuh warna oleh “lautan” almamater pada Rabu (15/7/2026) sore. Ribuan mahasiswa dari puluhan perguruan tinggi di Bali memadati tribun hingga area depan panggung utama demi mengikuti peluncuran Program Pengabdian Masyarakat Desa Kerthi Bali Sejahtera 2026.

Gerakan kolaborasi masif yang diinisiasi oleh Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Bali ini dilepas langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.

Tidak tanggung-tanggung, program ini melibatkan 38 perguruan tinggi, dengan mengerahkan lebih dari 13.000 mahasiswa dan didampingi sekitar 900 dosen pembimbing lapangan ke berbagai desa, kelurahan, hingga desa adat di seluruh penjuru Bali.

Bukan Sekadar KKN Formalitas

Dalam sambutan hangatnya, Gubernur Wayan Koster menegaskan bahwa pengabdian ini bukanlah agenda seremonial belaka atau sekadar pemenuhan beban SKS akademik.

“Program ini bukan sekadar pelaksanaan kuliah kerja nyata (KKN) atau pemenuhan kewajiban akademik biasa. Ini adalah implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang kita sinergikan langsung dengan arah kebijakan pembangunan Provinsi Bali,” tegas Koster di hadapan ribuan mahasiswa.

Ia mengingatkan bahwa pondasi utama kehidupan, budaya, dan alam Bali berada di desa. Oleh karena itu, pembangunan Bali tidak boleh hanya berpusat di area perkotaan dan kawasan pariwisata saja.

Tantangan Menjadi Problem Solver dan Inovator

Koster menitipkan pesan mendalam agar mahasiswa tidak bersikap eksklusif saat turun ke tengah masyarakat. Ia meminta mahasiswa hadir dengan kerendahan hati untuk mendengar, belajar, dan memahami denyut nadi persoalan warga desa.

“Jadilah problem solver. Gunakan ilmu pengetahuan yang kalian miliki di bangku kuliah untuk menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan yang dihadapi di desa. Jadilah inovator!” pinta Koster disambut riuh tepuk tangan mahasiswa.

Secara spesifik, program Desa Kerthi Bali Sejahtera ini diarahkan untuk mengawal beberapa isu krusial di tingkat tapak, antara lain:

  • Pelestarian Lingkungan: Pengelolaan sampah berbasis sumber, pembatasan plastik sekali pakai, serta perlindungan danau, mata air, sungai, dan laut.

  • Kedaulatan Pangan & Ekonomi: Pengembangan pertanian organik, penguatan UMKM, dan optimalisasi penggunaan produk lokal Bali.

  • Sosial & Kebudayaan: Pelestarian adat, seni, budaya, bahasa, aksara, kain tenun lokal, hingga mendukung program pengentasan kemiskinan Satu Keluarga Satu Sarjana.

Pendekatan Berbasis Potensi Wilayah

Kepala BRIDA Provinsi Bali, Ketut Wica, menjelaskan bahwa penentuan lokasi pengabdian telah disesuaikan oleh masing-masing perguruan tinggi dengan mempertimbangkan potensi wilayah serta latar belakang keilmuan mahasiswa.

Melalui pemetaan yang presisi ini, kontribusi yang dihadirkan di sektor ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga teknologi tepat guna diharapkan dapat tepat sasaran dan berdampak panjang.

Di akhir acara, yang juga dimeriahkan oleh penampilan musisi Bali Bagus Wirata, Koster berharap kolaborasi ini menjadi tradisi tahunan yang berkelanjutan.

“With sinergi ini, kita akan mampu mewujudkan desa yang maju, masyarakat yang sejahtera, lingkungan yang lestari, ekonomi yang berdikari, dan kebudayaan Bali yang semakin kokoh,” pungkasnya.

[ Editor : Sarjana ]

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru