News  

Puri dan Pemkab Buleleng Satukan Langkah Bangun Heritage Singaraja

Buleleng, Balijani.id| Upaya menghidupkan kembali sejarah dan identitas Kota Singaraja mulai menemukan titik temu. Paiketan Penglingsir Puri Trah Tunggal  Anglurah Panji Sakti menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Pemerintah Kabupaten Buleleng membangun kawasan heritage dan penetapan titik nol Kota Singaraja sebagai bagian dari penguatan sejarah dan pariwisata daerah.

Dukungan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara penglingsir Puri dengan Bupati Buleleng dr.  I Nyoman Sutjidra, Sp.Og  dan Wakil Bupati Buleleng Gede Supriatna, S.H  di Puri Kanginan, Singaraja. Pertemuan itu menjadi ruang dialog strategis untuk menyamakan persepsi pembangunan kawasan pusaka berbasis sejarah Buleleng.

Manggala Utama Trah Tunggal Anglurah  Panji Sakti, Anak Agung Wiranata Kusuma, S.H., M.H., menyampaikan apresiasi atas perhatian dan keterbukaan pemerintah daerah terhadap gagasan yang disampaikan pihak puri. Ia menegaskan, kontribusi yang diberikan bukan dalam bentuk materi, melainkan ide-ide yang berangkat dari sejarah Buleleng.

“Kami tidak bisa menyumbang apa-apa selain ide. Ide-ide yang semoga bermanfaat bagi masyarakat Buleleng, karena Buleleng sudah punya sejarah yang nyata, bukan dibuat-buat. Tinggal sekarang bagaimana itu dihidupkan dan disambungkan,” ujar Anak Agung Wiranata.

Ia berharap pembangunan kawasan heritage dan penetapan titik nol Kota Singaraja dapat menjadi pintu masuk kebangkitan ekonomi Buleleng, khususnya melalui sektor pariwisata berbasis sejarah dan budaya.

“Dengan diawali dari titik nol heritage atau kawasan pusaka ini, ke depan bisa menjadi kawasan yang membanggakan dan menggerakkan ekonomi Buleleng dari sisi pariwisata,” katanya.

Menurutnya, konsep heritage yang dibangun tidak berdiri sendiri, tetapi terhubung dalam satu kesatuan sejarah. Mulai dari Monumen Panji Sakti di Panji, monumen kapal Kidempuwawang di Pantai Penimbangan, kawasan Pelabuhan Buleleng, Pecinan, hingga keterkaitan dengan Puri Buleleng.

“Semua itu akan menjadi satu kawasan pusaka atau heritage. Dengan nyambungnya pihak puri dan Pak Bupati, ini menjadi modal awal kebangkitan Buleleng,” tegasnya.

Anak Agung Wiranata juga menegaskan dukungan penuh pihak puri terhadap kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Buleleng dalam mewujudkan pembangunan berbasis sejarah.

“Kami dari Puri pasti dukung penuh untuk keberhasilan pembangunan Buleleng,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra menjelaskan pertemuan tersebut bertujuan menyerap masukan sejarah sebagai rujukan pembangunan kawasan heritage di Kota Singaraja dan wilayah Buleleng secara umum.

“Kami bertemu dengan paiketan penglingsir Puri Trah Tunggal Panji Sakti untuk menyamakan persepsi pembangunan kawasan heritage di Kota Singaraja dan Kabupaten Buleleng,” kata Sutjidra.

Ia mengaku memperoleh banyak penjelasan detail mengenai sejarah berdirinya Buleleng dan Singaraja, lengkap dengan penanda waktu yang masih memiliki bukti nyata hingga kini.

“Dari tahun 1604, 1793, 1893, sampai 1928 itu semua dijelaskan secara detail dan masih ada realitanya di Buleleng. Ini yang nanti akan kita susun menjadi narasi sejarah,” jelasnya.

Menurut Sutjidra, kawasan monumen Panji Sakti yang telah diserahkan kepada Pemkab Buleleng akan dirawat dan dikoneksikan dengan kawasan Pura Segara Penimbangan sebagai bagian dari satu jalur sejarah.

“Dari sanalah sejarah berdirinya Singaraja dimulai. Kawasan ini harus kita kembalikan sebagai warisan Anglurah Panji Sakti,” tegasnya

Ia juga menilai dukungan lintas puri di Buleleng merupakan kekuatan besar bagi pembangunan daerah.

“Luar biasa, semua puri bisa guyub dan bersatu. Ini gayung bersambut untuk membangun kawasan heritage Buleleng,” katanya.

Di akhir pernyataannya, Sutjidra menegaskan bahwa pembangunan berbasis sejarah harus dijalankan dengan kerja keras dan kolaborasi, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Dengan dukungan ini, kita harus bekerja keras membangun Buleleng agar bisa berkembang dan mensejahterakan masyarakat, apalagi didukung konektivitas seperti pembangunan shortcut,” pungkasnya.

Penyatuan langkah antara pemerintah daerah dan penglingsir puri ini diharapkan menjadi fondasi kuat untuk mengembalikan Singaraja sebagai pusat sejarah, budaya, dan pertumbuhan ekonomi Buleleng ke depan.

[ Reporter : Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *