Denpasar, Balijani.id| Data resmi kunjungan wisatawan tahun 2025 menunjukkan pariwisata Bali tidak hanya pulih, tetapi melampaui capaian sebelum pandemi Covid-19. Di tengah isu Bali disebut sepi, angka justru berbicara sebaliknya.
Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali.
Gubernur Bali Wayan Koster memaparkan data perbandingan kunjungan wisatawan tahun 2025 yang disandingkan dengan tahun 2024. Data tersebut bersumber dari BPS Provinsi Bali dan PT Angkasa Pura per 31 Desember 2025.
“Jumlah wisatawan mancanegara tahun 2025 mencapai 7,05 juta orang. Ini lebih tinggi sekitar 750 ribu orang dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 6,3 juta orang. Pencapaian ini bahkan melampaui periode sebelum Covid-19,” ujar Wayan Koster.
Berdasarkan data bulanan, hampir seluruh bulan pada 2025 menunjukkan kenaikan kunjungan wisman dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan signifikan terjadi pada Januari, April, Juni, dan Desember. Secara akumulatif, jumlah wisman meningkat 11,3 persen dibandingkan 2024.
Namun, tren berbeda terjadi pada wisatawan nusantara (wisnus). Sepanjang 2025, jumlah wisnus tercatat 9,28 juta orang, turun sekitar 730 ribu dibandingkan 2024 yang mencapai 10,12 juta orang.
“Kalau digabungkan antara wisman dan wisnus, total kunjungan wisatawan tahun 2025 mencapai 16,3 juta orang. Angka ini turun tipis sekitar 100 ribu dibandingkan tahun 2024,” jelas Koster.
Meski secara total terjadi penurunan kecil, Koster menegaskan posisi Bali sebagai destinasi wisata dunia tetap kuat. Kenaikan signifikan wisatawan mancanegara menjadi indikator utama denyut pariwisata Bali tetap bergerak positif.
“Sebagai destinasi wisata dunia, Bali masih sangat diminati masyarakat global. Data ini sekaligus menjawab bahwa tidak benar Bali disebut sepi,” tegasnya.
Selain kunjungan melalui udara, sektor wisata bahari juga menunjukkan pertumbuhan. Jumlah wisatawan mancanegara yang datang melalui kapal pesiar (cruise) di Pelabuhan Benoa sepanjang 2025 tercatat lebih dari 71 ribu orang, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang berjumlah sekitar 53 ribu orang.
Koster menyebut, penurunan wisnus perlu menjadi bahan evaluasi ke depan. Beberapa faktor yang patut dikaji antara lain berkurangnya jumlah penerbangan domestik ke Bali, harga tiket pesawat, isu banjir, hingga perubahan pola perjalanan wisatawan nusantara dari jalur udara ke jalur darat.
“Memasuki 2026, kita perlu evaluasi penurunan wisnus secara komprehensif, agar kebijakan pariwisata lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Data ini menegaskan bahwa pariwisata Bali telah bangkit dan bergerak melampaui masa sebelum pandemi. Tantangan ke depan bukan pada minat wisatawan mancanegara, melainkan bagaimana menjaga keseimbangan dan mendorong kembali pergerakan wisatawan nusantara secara berkelanjutan.
[ Editor : Sarjana ]








