Prof. Didik Rachbini: Ganti Gubernur BI Tak Cukup, Rupiah Masih Tertekan 5 Tahun ke Depan

Balijani.id, 30 Agu 2026, 20:49 WIB
Grafik pelemahan nilai tukar rupiah dan analisis ekonomi oleh Prof Didik Rachbini

Jakarta, Balijani.id — Pergantian kepemimpinan Bank Indonesia (BI) dinilai belum cukup untuk mengubah fundamental nilai tukar rupiah dalam lima tahun mendatang. Ekonom senior sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, menilai persoalan rupiah jauh lebih kompleks daripada sekadar kebijakan moneter. Tekanan terhadap mata uang nasional berkaitan dengan masalah struktural yang mencakup sektor moneter, sektor riil, ekonomi domestik, hingga sektor eksternal.

“Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” ujar Didik.

Menurutnya, Indonesia memang memiliki ukuran ekonomi yang besar, pasar domestik yang luas, serta populasi ratusan juta jiwa. Namun, besarnya pasar dalam negeri tidak otomatis memperkuat nilai tukar. Aktivitas ekonomi yang terlalu bertumpu pada konsumsi domestik memang mendorong pertumbuhan PDB, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan keuntungan perusahaan, tetapi sebagian besar hanya menghasilkan perputaran rupiah di dalam negeri.

Suku Bunga Bukan Satu-satunya Jawaban

Didik menyoroti dilema BI dalam menggunakan instrumen suku bunga:

  • Menaikkan suku bunga: Mendorong masuknya modal asing dan daya tarik aset rupiah, tetapi menaikkan biaya pembiayaan dunia usaha, KPR, investasi, serta menekan aktivitas ekonomi domestik.
  • Menurunkan suku bunga: Berpotensi mengurangi daya tarik aset rupiah ketika investor menilai aset berbasis dolar AS lebih menguntungkan.

“Bank sentral yang konservatif dan hanya mengandalkan instrumen suku bunga tidak akan menjadikan nilai tukar lebih kuat,” tegas Didik. Kebijakan moneter hanya salah satu bagian dari persoalan yang lebih besar.

Rupiah Bisa Melemah Tanpa Menunggu Krisis

Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh faktor non-moneter seperti kepastian hukum, korupsi, tingginya biaya transaksi, dan belum kuatnya daya saing sektor luar negeri. Faktor-faktor ini memengaruhi persepsi investor dan membuat rupiah rentan. Daya tahan rupiah sangat bergantung pada kemampuan ekonomi Indonesia menghasilkan devisa secara konsisten, bukan hanya mengandalkan perputaran ekonomi domestik.

Ekonomi Harus Berubah Arah: Dari Inward ke Outward Looking

Model ekonomi yang inward looking memicu masalah ketika produksi nasional sangat bergantung pada bahan baku dan barang modal impor. Pertumbuhan konsumsi dan produksi justru meningkatkan kebutuhan terhadap dolar AS karena sifatnya yang “rakus impor”.

Didik mendorong perubahan strategi menuju ekonomi outward looking dengan memperbesar pendapatan luar negeri melalui:

  1. Ekspor manufaktur dan produk bernilai tambah.
  2. Investasi asing langsung (Foreign Direct Investment).
  3. Sektor pariwisata internasional.
  4. Transaksi bisnis global.

Cadangan Devisa dan Tantangan Investasi Asing

Posisi cadangan devisa Indonesia (sekitar US$145,3 miliar pada akhir Juli 2026) dinilai terlalu kecil sebagai penyangga eksternal jika dibandingkan dengan negara kawasan seperti Singapura (US$426,2 miliar) dan Thailand (US$279,2 miliar).

Ketergantungan pada devisa komoditas (batu bara, sawit, nikel) membuat penerimaan ekspor sangat sensitif terhadap fluktuasi harga global. Di sisi lain, investor asing masih menghadapi hambatan berupa kepastian hukum, korupsi, dan persepsi risiko tinggi.

Memperkuat rupiah membutuhkan pendekatan lintas sektor. Stabilitas mata uang tidak cukup hanya dijaga melalui intervensi pasar valas atau suku bunga BI semata, melainkan butuh perubahan struktural luas agar pertumbuhan ekonomi Indonesia juga kuat menghasilkan pendapatan dari dunia luar.

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru