DENPASAR, Balijani.id | Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kesiapannya untuk mempercepat transisi energi bersih di Pulau Dewata melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap serta penggunaan kendaraan listrik berbasis baterai. Menurutnya, kedua program tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan demi mewujudkan Bali yang mandiri energi dan ramah lingkungan.
Pernyataan tersebut disampaikan Koster saat menjadi panelis sekaligus memberikan sambutan selamat datang (welcoming speech) pada ajang Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 yang digelar di Bali Beach Convention Center, The Meru Sanur, Selasa (14/7/2026).
Butuh Kepastian Regulasi dari Pusat dan PLN
Dalam pemaparannya, Koster menggarisbawahi bahwa percepatan pemanfaatan energi bersih di tingkat daerah membutuhkan dukungan penuh dan sinergi dari pemerintah pusat, khususnya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta PT PLN (Persero). Kebijakan pusat diharapkan memberikan kepastian regulasi agar daerah yang sudah siap bergerak tidak terhambat.
“Menurut saya, soal PLTS Atap ini tidak berdiri sendiri. Energi bersih dan kendaraan listrik itu satu kesatuan. Ini harus diselesaikan dulu di pusat. Menteri ESDM dengan PLN harus jelas kebijakannya. Jangan maju mundur,” tegas Koster.
Ia menilai arahan Presiden untuk mempercepat pemanfaatan energi surya hingga mencapai kapasitas 100 gigawatt semestinya segera diikuti dengan langkah konkret yang memberikan keleluasaan bagi pemerintah daerah.
Berdasarkan pengalamannya saat bertugas di Badan Anggaran DPR RI, Koster mengakui tantangan transisi energi kerap berbenturan dengan kepentingan sektor energi konvensional. Oleh karena itu, ia meminta agar daerah yang memiliki komitmen kuat—serta didukung oleh lembaga seperti Institute for Essential Services Reform (IESR)—diberikan ruang seluas-luasnya untuk berakselerasi.
Agustus 2026: Bali Mulai Tancap Gas
Sebagai bentuk komitmen nyata di daerah, Pemerintah Provinsi Bali akan mulai mengintensifkan kampanye dan implementasi penggunaan energi bersih serta transportasi listrik berbasis baterai secara masif pada bulan depan.
“Saya jujur saja, mulai tahun ini kita akan gencar mengampanyekan penggunaan energi bersih dan transportasi listrik berbasis baterai. Mulai Agustus ini kita lakukan percepatan. Saya ingin tancap gas, gaspol sebenarnya, karena masyarakat dan pelaku usaha sudah siap,” ungkapnya.
Koster menambahkan bahwa dirinya telah mengumpulkan para pelaku industri pariwisata, mulai dari pengelola hotel, pusat perbelanjaan, hingga fasilitas umum untuk segera memasang PLTS Atap. Namun, ia berharap tidak ada pembatasan kuota dari pusat yang dapat menyulitkan implementasi di lapangan.
Bukan Sekadar Seremonial, Bali Kejar Target Riil
Gubernur Koster menegaskan bahwa Bali memiliki kepentingan besar dalam menjaga kelestarian lingkungan demi masa depan sektor pariwisata. Penerapan energi bersih diyakini akan menjaga ekosistem alam, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta memperkuat citra Bali sebagai destinasi pariwisata hijau berkelas dunia.
Ia pun mengingatkan agar ajang Indonesia Solar Summit (ISS) 2026 tidak berhenti sebagai forum diskusi atau sekadar pemenuhan seremonial semata. Forum internasional ini harus melahirkan langkah konkret yang terukur.
“Ini harus kita lakukan secara nyata supaya tidak hanya summit terus, tidak hanya seminar terus. Yang dibutuhkan sekarang adalah kebutuhan riil dan implementasi nyata di lapangan. Harus progresif, sehingga apa yang diniatkan memiliki target dan capaian yang jelas,” pungkas Koster.
[ Editor : Sarjana ]
Kredit Editorial
- Editor: Nyoman Sarjana













