Advertisement
Kirim Opini Balijani
✍️ Kirim Opini ke Redaksi
Sampaikan pandangan, ulasan, atau kritik membangun Anda.

Pesta Kesenian Bali (PKB): Merawat Jati Diri Budaya, Bukan Panggung Politik

Balijani.id, 14 Jun 2026, 03:19 WIB
Ragam hias ogoh-ogoh dan barisan penari peed aya yang memancarkan taksu seni dalam pembukaan Pesta Kesenian Bali.

Denpasar, Balijani.id | Pesta Kesenian Bali (PKB) pada hakikatnya bukanlah ruang untuk mempertontonkan kepentingan politik. PKB adalah sebuah wahana kebudayaan yang lahir dari kesadaran kolektif krama Bali untuk menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai seni, budaya, serta tradisi luhur kepada generasi berikutnya.

Sejak pertama kali digagas oleh Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra pada tahun 1979, PKB dirancang sebagai media pelestarian kebudayaan Bali yang kokoh menghadapi tantangan modernisasi dan globalisasi. PKB menjadi ruang perjumpaan sakral antara seniman, budayawan, akademisi, masyarakat adat, dan pemerintah dalam upaya menjaga keberlanjutan peradaban Pulau Dewata.

Secara filosofis, PKB merupakan manifestasi dari semangat ngayah dan pengabdian budaya yang tulus. Kesenian yang ditampilkan di panggung ini bukan sekadar pertunjukan hiburan komersial, melainkan representasi nilai-nilai luhur yang hidup dalam denyut nadi masyarakat Bali.

Tari, tabuh, sastra, seni rupa, hingga berbagai ekspresi budaya lainnya merupakan hasil proses panjang pewarisan pengetahuan yang telah mengkristal menjadi identitas dan jati diri. Karena itu, keberadaan PKB harus dipahami sebagai upaya merawat memori kolektif kebudayaan Bali agar tetap hidup, relevan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa pernah kehilangan akar tradisinya.

Keberhasilan PKB selama hampir lima dekade tidak terjadi secara instan. Sebelum para seniman tampil memukau di panggung, telah berlangsung berbagai proses pembinaan, seleksi, pelatihan, dan pendampingan maraton yang melibatkan Dinas Kebudayaan, pemerintah kabupaten/kota, desa adat, sanggar seni, akademisi, budayawan, serta para maestro seni Bali.

Proses ini menunjukkan bahwa PKB bukan sekadar sebuah festival tahunan musiman, melainkan sebuah ekosistem pembinaan budaya terstruktur yang berlangsung sepanjang tahun. Keterlibatan desa adat menjadi sangat vital karena desa adat merupakan benteng utama sekaligus filter kelestarian tradisi. Melalui kolaborasi ini, regenerasi seniman dan transfer pengetahuan budaya dapat berlangsung secara berkesinambungan.

Dalam perkembangannya hingga tahun 2026, PKB tetap konsisten menjadi ruang ekspresi budaya yang menampilkan berbagai bentuk kreativitas masyarakat Bali. Ragam agenda dikemas apik, mulai dari parade budaya (Peed Aya), pementasan seni (Rekasadana), lomba (Wimbakara), pameran (Kandarupa), sarasehan budaya (Widyatula), hingga lokakarya (Kriyaloka). Keberlanjutan program-program tersebut menunjukkan komitmen kuat Pemerintah Provinsi Bali dan masyarakat adat untuk menjadikan kebudayaan sebagai fondasi utama pembangunan daerah.

Oleh karena itu, memandang PKB semata-mata sebagai panggung seremonial atau bahkan arena politik merupakan penyederhanaan keliru yang mengabaikan makna substansialnya. PKB adalah ruang peradaban yang menegaskan bahwa kebudayaan Bali bukan warisan masa lalu yang disimpan dalam kenangan gersang, melainkan identitas hidup yang terus dirawat, dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan.

Melalui PKB, masyarakat Bali sesungguhnya sedang memperkuat akar budayanya sendiri, menjaga jati diri kolektifnya, serta memastikan bahwa warisan adiluhung leluhur tetap lestari melintasi zaman.

Dumugi Rahayu JMW 🙏😇🙏

[ Editor : Sarjana ]

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru