JAKARTA, Balijani.id | Jarak geografis tidak semestinya menjadi penghalang dalam menghadirkan pelayanan publik yang responsif dan berkualitas. Gagasan tersebut tercermin nyata melalui pengembangan Medlin Command Center di Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN)—sebuah mekanisme pelayanan modern untuk mempercepat penanganan persoalan ASN melalui komunikasi, koordinasi, pemeriksaan, hingga mediasi tanpa mengharuskan pertemuan tatap muka.
Di balik terobosan tersebut, terdapat peran penting I Gusti Ngurah Agung Yuliarta Endrawan. Saat bertugas di KASN, ia aktif mendorong pemanfaatan teknologi untuk memangkas jarak antara lembaga dan aparatur yang membutuhkan pelayanan, perlindungan, maupun penyelesaian masalah.
Pelayanan Lintas Negara: Jakarta hingga Astana
Penerapan mekanisme Medlin tidak hanya terbukti efektif dalam lingkup domestik, tetapi juga menjangkau ranah internasional. Salah satu pengalaman berkesan adalah penanganan persoalan pada Perwakilan Republik Indonesia di Astana, Kazakhstan. Melalui Medlin, komunikasi dan pendampingan dapat dilakukan secara langsung dari Indonesia tanpa kendala geografis.
Keberhasilan penanganan tersebut terbukti memberikan dampak positif. Duta Besar RI untuk Kazakhstan memberikan apresiasi dan rekomendasi yang mendalam melalui video testimoni yang dipublikasikan pada kanal Medlin JPT 1 KASN, 19 Januari 2023. Dubes menyampaikan bahwa KASN bergerak cepat, profesional, dan memberikan pendampingan yang dapat diakses hingga 24 jam demi mendukung tata kelola pemerintahan yang baik (good governance).
Guru Besar Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik FISIPOL Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus mantan Ketua KASN, Prof. Dr. Agus Pramusinto, menilai bahwa kekuatan utama Medlin terletak pada orientasi hasilnya, bukan sekadar penggunaan aplikasinya.
“Gagasan Agung waktu itu adalah bagaimana orang yang membutuhkan pelayanan tidak dipersulit oleh prosedur dan jarak. Teknologi digunakan untuk mempercepat akses dan membantu penyelesaian persoalan,” ujar Prof. Agus saat diwawancarai, Jumat (21/8/2026).
Pengaduan Berorientasi Kepastian Solusi
Prof. Agus menambahkan, pendekatan berorientasi penyelesaian juga terlihat ketika Agung menangani laporan perlindungan ASN yang sempat stagnan selama enam bulan di lembaga lain. Setelah ditangani melalui mekanisme Medlin di KASN, laporan tersebut segera ditelaah, diklarifikasi, dan berhasil dituntaskan dengan keluarnya rekomendasi hanya dalam waktu sekitar dua minggu.
“Bagi masyarakat atau ASN yang mengadu, yang dibutuhkan bukan sekadar kepastian laporan diterima, melainkan kepastian bahwa persoalan mereka diperiksa, diklarifikasi, dan ditindaklanjuti,” tegas Prof. Agus.
Bagi Agus, digitalisasi pelayanan tidak boleh sekadar memindahkan prosedur manual ke sistem elektronik. Digitalisasi harus mampu mempercepat proses kepastian hukum dan solusi, termasuk dalam urusan manajerial kelembagaan.
Integritas dan Nilai Kepemimpinan Pelayanan Publik
Selain responsif, Prof. Agus menyoroti konsistensi Agung dalam menjaga integritas. Agung dikenal secara ketat melarang tamu atau pihak yang berkonsultasi untuk membawa oleh-oleh atau bentuk pemberian apa pun.
“Saya mendengar jika ada tamu yang akan datang, selalu disampaikan tidak perlu membawa apa-apa, termasuk oleh-oleh. Karena memberikan pelayanan memang sudah menjadi kewajiban,” tuturnya.
Rekam jejak dan filosofi kerja Agung Endrawan—yang juga sempat mengikuti seleksi dan ditetapkan sebagai calon cadangan Anggota Ombudsman RI—dinilai sangat relevan dengan kebutuhan pengawasan pelayanan publik masa kini. Pengalaman Medlin membuktikan bahwa teknologi dapat memangkas jarak, tetapi inti dari sebuah inovasi tetap terletak pada kepemimpinan yang hadir, merespons cepat, dan menjalankan kewenangan dengan integritas tinggi.










