Menuju Bali Berbasis Data: Gubernur Wayan Koster Wajibkan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Jadi Landasan Pembangunan

Balijani.id, 11 Jul 2026, 14:43 WIB
Gubernur Bali Wayan Koster saat melakukan prosesi penancapan kayon sebagai tanda penguatan komitmen menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 di Gedung Wiswa Sabha Utama

Denpasar, Balijani.id | Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan dukungannya terhadap pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Ia menginstruksikan seluruh jajaran perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali untuk menggunakan data hasil sensus sebagai landasan utama dalam menyusun setiap perencanaan pembangunan, pemetaan anggaran, dan perumusan kebijakan ke depan.

Penegasan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada acara Penguatan Komitmen Bersama Menyukseskan Sensus Ekonomi 2026 Provinsi Bali yang digelar di Gedung Wiswa Sabha Utama, Sabtu (11/7). Acara simbolis ini ditandai dengan prosesi penancapan kayon.

Sensus Ekonomi 2026: Memotret Usaha dan Ekonomi Keluarga

Berbeda dari sebelumnya, Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya mendata seluruh unit usaha—mulai dari skala mikro, kecil, menengah, hingga usaha besar—tetapi juga melakukan pembaruan data ekonomi keluarga.

“Pembangunan ekonomi tidak hanya diukur dari tumbuhnya aktivitas usaha, melainkan juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ujar Koster.

Melalui pembaruan data ekonomi keluarga ini, pemerintah akan memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai:

Arti Strategis bagi Perekonomian Bali

Sebagai daerah dengan karakteristik ekonomi unik yang bertumpu pada sektor pariwisata, pertanian, perikanan, perdagangan, industri kreatif, serta UMKM, Bali sangat membutuhkan data berkualitas. Hasil Sensus Ekonomi 2026 diharapkan menjadi fondasi penting untuk mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali secara terukur, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Dengan data yang akurat, pemerintah dapat memetakan:

  1. Sektor-sektor ekonomi yang perlu diperkuat.

  2. Potensi-potensi baru yang perlu dikembangkan.

  3. Wilayah-wilayah yang memerlukan perhatian lebih besar.

  4. Tantangan struktural yang harus segera diatasi.

Antisipasi Hari Raya Galungan dan Kuningan

Gubernur Koster juga menjelaskan bahwa proses sensus di Bali sengaja dimulai lebih awal sebagai langkah antisipatif agar tidak berbenturan dengan perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan.

“Atas nama Pemerintah Daerah dan segenap masyarakat Bali, saya menyampaikan terima kasih kepada Ibu Kepala BPS RI atas kebijaksanaan dan kelonggaran waktu yang diberikan. Dengan begitu, umat Hindu di Bali dapat menjalankan hari raya dengan tenang, dan akurasi data sensus pun terjaga dengan optimal,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau seluruh kepala daerah dan masyarakat Bali untuk menyukseskan agenda 10 tahunan ini dengan memberikan data yang jujur, akurat, dan benar.

Arahan BPS RI dan Kesiapan BPS Provinsi Bali

Kepala BPS Republik Indonesia, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa Sensus Ekonomi merupakan kompas bagi perjalanan bangsa. Data yang berkualitas akan memastikan arah pembangunan tepat sasaran menuju Indonesia Maju. Ia berpesan kepada ribuan petugas di lapangan agar melakukan pencacahan secara teliti, akurat, dan tidak ada data yang terlewat.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPS Provinsi Bali, Agus Gede Hendrayana Hermawan, menyatakan optimismenya bahwa sensus ini akan menghasilkan basis data yang lebih utuh dan kokoh untuk mendukung perencanaan pembangunan daerah.

Data Teknis Pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 di Bali:

  • Petugas Lapangan: 3.774 petugas sensus dikerahkan langsung secara door-to-door.

  • Waktu Pelaksanaan: Selama 2 bulan, mulai 8 Juni hingga 31 Agustus.

  • Total Sasaran: 1,71 juta target yang mencakup unit usaha dan keluarga.

  • Estimasi Unit Usaha di Bali (Total 647.337 Unit):

    • Usaha Mikro Kecil (UMK): 632.956 unit (tulang punggung ekonomi)

    • Usaha Menengah: 12.578 unit

    • Usaha Besar: 1.803 unit

Melalui momentum ini, Sensus Ekonomi 2026 diharapkan menjadi gerakan bersama untuk membangun Bali yang berbasis data objektif. Fondasi ekonomi yang kuat diharapkan mampu menjaga keharmonisan antara alam, manusia, dan kebudayaan Bali di masa depan.

[ Editor : Sarjana ]

Kredit Editorial

  • Editor: Nyoman Sarjana
Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru