Harmoni Kontemplasi dan Kontemporer: Menelusuri Jiwa Kesenian I Wayan Santrayana dari Cau Belayu

Balijani.id, 6 Jul 2026, 13:27 WIB
Perupa I Wayan Santrayana asal Cau Belayu Tabanan saat menggoreskan kuas di atas kain kanvas menyelesaikan karya lukis terbarunya bertema spiritualitas

Bali, Balijani.id | Bagi I Wayan Santrayana, seorang perupa berbakat asal Cau Belayu, Marga, Tabanan, melukis bukan sekadar aktivitas menumpahkan warna di atas kain kanvas. Seni rupa baginya adalah sebuah laku hidup—sebuah jembatan yang menghubungkan kedalaman spiritualitas interior diri dengan dinamika realitas sosial di luar sana.

Jiwa yang Mengendap, Sketsa yang Berbicara

Proses kreatif seorang Santrayana selalu bermula dari endapan-endapan kejadian. Segala fenomena sosial, budaya, dan isu humanisme yang berakar pada filosofi hidup diadopsi, direnungkan, hingga mengkristal menjadi ide. Ide-ide ini kemudian lahir secara intim lewat sketsa awal di atas kertas.

Aktivitas keseharian seperti sembahyang dan meditasi memegang peran krusial sebagai jangkar ketenangan. Dari keheningan ritus tersebut, ide-ide berkelanjutan terus mengalir tanpa henti, yang kemudian dieksekusi dengan iringan musik seperti gamelan untuk menghidupkan atmosfer kreativitas.

Ketika art block datang menyerang—sebuah fase yang ia maknai sebagai ruang kosong positif setelah seluruh ide tercurah—Santrayana memilih kembali ke alam, membaca literasi, serta berdialog dengan sahabat untuk mengisi ulang celengan idenya. Proses panjang ini baru akan mencapai puncaknya ketika seluruh makna, ekspresi, dan teknik menyatu secara utuh, ditandai dengan pembubuhan tanda tangan sebagai segel akhir sebuah karya.

Kanvas sebagai Media Edukasi dan Suara Alam

Karya-karya Santrayana memuat muatan emosi dan pesan edukasi yang kuat. Melalui pendekatan visual, ia kerap memotret polemik masyarakat dan jeritan alam. Salah satu manifesto pentingnya tertuang dalam karya seperti Heroism vs Hedonism, yang mengangkat potret miris kerusakan lingkungan di Aceh dan Sumatra Utara akibat ego manusia yang abai terhadap dampak lingkungan.

Secara garis besar, karyanya terbagi dalam dua poros dialog:

  • Tema Ke Luar (Eksterior): Berfokus pada isu-isu marginal life (kehidupan kaum marginal) dan eksploitasi alam. Salah satu metafora yang sering muncul adalah figur “Ibu”—baik secara makrokosmos (Ibu Pertiwi yang menyangga dunia namun sering dirusak) maupun mikrokosmos (peran berat seorang ibu yang melambangkan kesuburan namun kerap terjebak dalam realitas tragis).

  • Tema Ke Dalam (Interior): Eksplorasi spiritualitas dan psikologis murni melalui gaya Mayarupa, yang lahir dari dialog mendalam dengan pikiran sendiri.

Akar Tradisi dalam Napas Kontemporer

Secara garis kepengarangan artistik, Santrayana berdiri teguh di atas pundak tradisi sekaligus melangkah di era modern. Spiritualitas warnanya banyak menyerap estetika gaya Kamasan—terinspirasi dari maestro legendaris almarhum Nyoman Mandra dan Mangku Mura—serta kekayaan lukisan tradisional Ubud dan Batuan. Namun, ketika berbicara mengenai ekspresi, ia banyak dipengaruhi oleh kebebasan emosional sang maestro kontemporer, Affandi.

Menanggapi disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) di dunia seni masa kini, Santrayana melihatnya secara bijak sebagai peluang, bukan ancaman. Bagi dirinya, esensi seni lukis sejati adalah pencurahan langsung dari pikiran, perasaan, dan keahlian tangan ke atas kanvas—sebuah transformasi organik yang tidak akan bisa digantikan secara utuh.

Kepada para generasi penerus dan sesama pencinta seni, perupa asal Tabanan ini berpesan agar senantiasa menikmati proses panjang yang ada. Hidup berkesenian memang penuh ujian studi dan mental, namun ujian itulah proses menyenangkan yang mendewasakan. Baginya, dalam tujuan akhir kesenian, tidak ada batasan waktu. Yang ada hanyalah konsistensi untuk terus mengasah anugerah, meyakini tujuan, dan terus berkomunikasi lewat karya.

[ Editor : Sarjana ]

Bagikan Berita:

Tinggalkan Balasan

1 Berita Terbaru