News  

Lahan Gondola Turyapada Dikebut, Warga Setuju Asal Hak Akses Dijamin

Lahan Gondola Turyapada Dikebut, Warga Setuju Asal Hak Akses Dijamin

Buleleng, Balijani.id| Pemerintah Provinsi Bali mempercepat proses pembebasan lahan untuk pembangunan jalur gondola di kawasan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali, Kabupaten Buleleng. Langkah ini dipacu setelah fasilitas gondola yang dipesan dari China dijadwalkan tiba pada akhir Juni 2026. Pemerintah pun menargetkan seluruh lahan yang dibutuhkan rampung agar pemasangan bisa langsung dimulai.

Proyek gondola ini menjadi bagian dari pembangunan tahap kedua kawasan wisata Turyapada yang digagas sebagai salah satu destinasi baru di Bali Utara. Selain untuk memperkuat sektor pariwisata, proyek ini juga diharapkan membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.

Gubernur Wayan Koster menegaskan, kesiapan lahan menjadi kunci utama agar pembangunan tidak kembali tertunda. Menurutnya, target penyelesaian tahap kedua kawasan Turyapada dipatok selesai pada November 2026 dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun.

Di tengah percepatan itu, dukungan warga pemilik lahan mulai menguat. Koordinator warga terkait pembebasan tanah untuk jalur gondola, Kadek Bagiarta, menyatakan masyarakat pada prinsipnya mendukung penuh proyek tersebut karena dinilai akan memberi dampak positif bagi pembangunan dan perekonomian daerah.

“Kami setuju dan mendukung program ini karena sangat bagus untuk pengembangan pariwisata, khususnya di Kabupaten Buleleng. Harapan kami tentu ke depan bisa membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi masyarakat,” kata Kadek Bagiarta.

Meski mendukung, warga meminta agar proses pembebasan lahan tetap memperhatikan hak masyarakat, terutama akses jalan menuju lahan yang tersisa. “Kami setuju untuk pembebasan lahan jalur gondola dengan lebar sekitar 20 meter. Tapi kami minta jalan utama tetap bisa dilalui warga, termasuk akses menuju sisa lahan kami. Kalau itu dipenuhi, tidak ada masalah,” ujarnya.

Warga juga berharap lahan yang tersisa nantinya tetap bisa mereka kelola sebagai penyangga kawasan wisata, termasuk membuka peluang usaha baru bagi generasi berikutnya. Mereka menilai manfaat proyek ini harus benar-benar dirasakan masyarakat lokal, bukan hanya menjadi infrastruktur semata.

Menanggapi hal itu, Wayan Koster memastikan masyarakat tidak akan ditinggalkan dalam pengembangan kawasan tersebut. “Nanti pasti akan tumbuh banyak kebutuhan di sini. Silakan warga bentuk koperasi atau wadah bersama agar bisa ikut terlibat dan mendapatkan manfaat langsung dari kawasan ini,” kata Koster.

Percepatan pembangunan gondola Turyapada kini bukan hanya soal proyek fisik, tetapi juga ujian bagaimana pemerintah memastikan pembangunan besar berjalan beriringan dengan kepentingan warga. Jika skema ini berhasil, Turyapada bukan hanya menjadi ikon wisata baru Bali Utara, tetapi juga contoh bagaimana pembangunan dapat tumbuh bersama masyarakat.

[ Editor : Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *