Bali, Balijani.id| Di tengah dominasi platform digital global yang selama ini menguasai pasar pariwisata Bali, muncul gerakan baru dari anak muda Bali yang ingin mengambil kembali ruang ekonomi di tanah sendiri. Bukan sekadar bisnis digital, langkah ini disebut sebagai upaya mengembalikan manfaat pariwisata agar benar-benar dirasakan masyarakat lokal.
Melalui platform digital bernama My Bali Friendz atau MBF, tim lokal Bali mencoba menawarkan model baru ekosistem pariwisata yang menghubungkan wisatawan dunia langsung dengan pelaku usaha lokal, tanpa ketergantungan penuh pada platform Online Travel Agent (OTA) internasional yang selama ini dinilai memotong margin bisnis masyarakat.
CEO My Bali Friendz
Gede Adi Swandana di Melbourne Australia dan juga pemilik G’day ink tatto ini, menegaskan lahirnya platform ini berangkat dari kegelisahan melihat banyak pelaku usaha lokal Bali yang belum sepenuhnya menikmati hasil besar dari industri pariwisata.
“Bersama tim My Bali Friendz, kami adalah semeton Bali yang sangat peduli terhadap kemajuan pariwisata, khususnya Pulau Bali yang kuat akan taksu, budaya, dan identitasnya,” ujarnya.
Chief Commercial Officer (CCO) MBF, IB Mahendra Putra, Menurutnya, selama ini banyak UMKM, transport lokal, villa keluarga, tatto, tour kecil, warung hingga spa tradisional masih bergantung pada platform luar dengan skema komisi tinggi. Kondisi itu membuat keuntungan pelaku usaha lokal semakin tergerus.
Melihat persoalan itu, MBF hadir memb. awa konsep direct transaction melalui sistem deposit digital berbasis MBF Card atau digital wallet, yang memungkinkan wisatawan melakukan transaksi langsung dengan vendor lokal.
“My Bali Friendz hadir sebagai ekosistem baru untuk memperkuat ekonomi lokal, Tatto dan pariwisata Bali yang berkelanjutan,” kata Mahendra.
Ia menegaskan, MBF tidak sekadar dibangun sebagai aplikasi perjalanan, tetapi sebagai gerakan ekonomi digital untuk memperkuat posisi masyarakat Bali di sektor yang selama ini menjadi tulang punggung daerah.
“Orang Bali harus menjadi tuan rumah di tanah sendiri. Uang wisatawan harus berputar di Bali, bukan keluar daerah,” tegasnya.
Melalui platform ini, wisatawan global terutama pasar Australia yang menjadi salah satu pasar utama Bali akan dihubungkan langsung dengan reservasi Tatto di bali, Hotel, Restaurant, Adventure dan Tranport hingga UMKM, tanpa perantara berbiaya tinggi.
Selain mendorong direct booking, MBF juga mengusung misi pelestarian budaya lewat konsep “Save Bali Culture Through Sustainable Tourism”, yakni menjaga agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keberlanjutan budaya Bali.
“MBF bukan pesaing kebijakan pemerintah, tetapi mitra strategis untuk memperkuat ekosistem pariwisata Bali. Kami ingin ikut berandil membangun Bali, bukan hanya sebagai pelaku usaha, tetapi sebagai anak Bali yang ingin melihat daerahnya mandiri secara ekonomi dan tetap kuat secara budaya,” tambahnya.
Di tengah gempuran digitalisasi global, MBF mencoba mengirim pesan tegas: Bali tidak boleh hanya menjadi pasar. Bali harus menjadi pemain utama di rumahnya sendiri. Jika langkah ini berhasil, pertarungan merebut kembali ekonomi pariwisata Bali bisa saja baru saja dimulai.
[ Editor : Sarjana ]













