Karangasem, Balijani.id| Pelaku usaha lokal di kawasan Amed, Kabupaten Karangasem mulai memperkuat kolaborasi melalui Amed Project Community’s sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi pariwisata berbasis masyarakat lokal. Inisiatif tersebut hadir untuk mempertemukan pelaku usaha lokal mulai dari restoran, hotel, hingga penyedia akomodasi agar memiliki ruang tumbuh yang lebih luas di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin ketat.
Kehadiran komunitas tersebut mendapat respons positif dari para pelaku usaha setempat. Selama ini, sebagian pelaku usaha lokal dinilai menghadapi tantangan besar akibat ketergantungan pada sistem dan jaringan bisnis pariwisata yang didominasi pihak luar. Kondisi itu juga berdampak pada meningkatnya biaya operasional di tengah situasi ekonomi yang terus berubah.
CEO My Bali Friendz sekaligus pemilik G’day Ink Tattoo, Gede Adi Swandana, mengatakan Amed Project Community’s dibentuk sebagai wadah yang menyatukan para pengusaha lokal agar mampu saling memperkuat dan berkembang bersama. Menurutnya, kolaborasi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan usaha lokal di sektor pariwisata.
“Amed Project Community’s ini merupakan kumpulan para pengusaha lokal mulai dari restoran, hotel hingga berbagai bentuk akomodasi. Sambutan yang diberikan sangat luar biasa karena mereka merasa membutuhkan ruang untuk berkembang bersama,” ujarnya.
Ia menjelaskan, banyak pelaku usaha lokal selama ini mengalami tekanan akibat meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung. Di sisi lain, ketergantungan terhadap platform luar dinilai membuat ruang gerak pelaku usaha lokal menjadi semakin terbatas. Situasi tersebut kemudian mendorong perlunya solusi yang lebih berpihak kepada masyarakat lokal.
“Selama ini banyak yang tergerus oleh dominasi bisnis asing dan menjadi ketergantungan. Ketika biaya semakin tinggi dan semuanya serba naik, kondisi itu tentu menjadi tantangan tersendiri bagi mereka,” katanya.
Menurut Adi, kehadiran platform digital pariwisata yang dibangun pihaknya diharapkan dapat menjadi jawaban atas kebutuhan pelaku usaha lokal. Sistem tersebut dirancang untuk membuka akses promosi dan jaringan yang lebih luas, tanpa membuat pelaku usaha harus bergantung sepenuhnya kepada pihak lain. Pendekatan yang digunakan juga diarahkan agar manfaat ekonomi lebih banyak kembali kepada masyarakat setempat.
“Ini menjadi jawaban bagi mereka melalui platform digital pariwisata baru yang kami bangun. Hal itu yang paling diapresiasi oleh pelaku usaha lokal karena mereka merasa memiliki ruang baru untuk berkembang,” ucapnya.
Adi berharap kolaborasi antarpelaku usaha lokal di Amed dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Bali. Menurutnya, penguatan ekonomi lokal tidak hanya berbicara mengenai bisnis semata, tetapi juga menjaga identitas, budaya, serta keberlanjutan masyarakat di daerah tujuan wisata.
[ Editor : Sarjana ]













