Buleleng, Balijani.id| Penguatan nilai kebangsaan kembali menjadi perhatian di tengah tantangan menjaga persatuan dalam masyarakat yang semakin beragam. Di Buleleng, momentum itu ditandai melalui kuliah umum kebangsaan yang menghadirkan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Ahmad Muzani, dengan tema besar memperkokoh persatuan dalam bingkai Pancasila menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pimpinan dan anggota DPRD Kabupaten Buleleng, di antaranya Ketua DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya, Wakil Ketua I Nyoman Gede Wandira Adi, Wakil Ketua III Kadek Widana, serta sejumlah anggota dewan lainnya.
Kuliah umum bertajuk “Memperkokoh Persatuan dalam Bingkai Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045” itu menjadi ruang refleksi bersama, sekaligus pengingat bahwa pembangunan bangsa tidak hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kokohnya ideologi dan persatuan nasional.
Dalam pemaparannya, Ahmad Muzani menegaskan pentingnya menjaga Pancasila sebagai fondasi utama bangsa di tengah dinamika global dan perubahan sosial yang terus bergerak cepat.
“Memperkokoh persatuan dalam bingkai Pancasila menjadi kunci penting menuju Indonesia Emas 2045,” tegasnya di hadapan peserta kuliah umum.
Bagi jajaran DPRD Buleleng, kehadiran dalam forum tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan itu dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan politik untuk terus menanamkan nilai kebangsaan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
Selain unsur legislatif, kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan DPRD Provinsi Bali, DPRD Provinsi Jawa Barat, Dirjen Binmas Hindu RI, Sekretaris Daerah Kabupaten Buleleng, IAHN Mpu Kuturan, PHDI Kabupaten Buleleng, FKUB Kabupaten Buleleng, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.
Di tengah banyaknya tantangan kebangsaan, dari polarisasi sosial hingga derasnya arus informasi digital, forum seperti ini menjadi pengingat bahwa Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan infrastruktur dan angka pertumbuhan. Fondasinya tetap sama: persatuan, kebhinekaan, dan kesetiaan pada Pancasila.
[ Editor : Sarjana ]













