Hidden Space Lemukih, Ikhtiar Angkat Pariwisata Utara Bali

Hidden Space Lemukih, Ikhtiar Angkat Pariwisata Utara Bali

*Buleleng, Balijani.id | Ketika pariwisata Bali selama ini identik dengan Kuta, Seminyak, hingga Ubud, kawasan Bali Utara terus berjuang menunjukkan bahwa mereka juga punya daya tarik yang tak kalah kuat. Dari lereng hijau Desa Wisata Lemukih, sebuah penginapan hadir bukan sekadar menawarkan tempat bermalam, tetapi membawa mimpi besar: mengangkat wajah pariwisata Singaraja ke panggung dunia.

Adalah Komang Budi Saputra, SE dan Komang Surya Utami owner Bali Hidden Space Lemukih, yang merancang sendiri konsep penginapan tersebut.

Menurutnya, nama Hidden Space dipilih bukan tanpa alasan. Lokasinya yang berada di tengah perkebunan menjadi inspirasi utama lahirnya identitas tempat itu,namun juga objek wisata penunjang terdekat. Sekumpul waterfall.dekat dengan Tower turyapada. Dan obejk wisata lainnya

“Nama Hidden itu diambil karena kita berada di suasana perkebunan. Jadi Hidden Space itu lebih ke mengarah ke ruang tersembunyi, itulah kalau di bahasa Indonesia,” ujarnya.

Penginapan ini resmi dibuka pada 2023. Di tengah suasana tenang pedesaan Lemukih, konsep wisata alam dipadukan dengan pengalaman menginap yang dirancang untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama, bukan sekadar datang lalu pulang.

Made Abdi Arta  sebagai Manager Bali Hidden Space Lemukih membenarkan ide awalnya muncul setelah melihat perkembangan wisata di Ubud. Menurutnya, Lemukih memiliki potensi yang sama, bahkan bisa berkembang lebih besar jika dikelola serius.

“Kita pernah berkunjung ke Ubud. Kita melihat, oh di Lemukih ini berpotensi untuk membuat seperti Ubud. Kita punya destinasi air terjun, jadi kenapa tamu hanya numpang mandi lalu pulang. Kenapa tidak kita siapkan penginapan,” katanya.

Lebih dari sekadar bisnis, ia ingin kehadiran penginapan itu membuka lapangan kerja bagi warga sekitar, terutama generasi muda agar tidak harus pergi jauh mencari pekerjaan.
“Biar ada spot ke desa juga untuk anak-anak di sini mencari pekerjaan, enggak perlu ke Denpasar,” ucapnya.

Awalnya, Bali Hidden Space hanya memiliki satu unit joglo. Namun seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan setiap tahun, pengembangan terus dilakukan dengan menambah kamar dan fasilitas baru.

Kini tersedia tiga tipe kamar, yakni deluxe room, suite room, dan superior room. Salah satu konsep unik yang ditawarkan adalah pemanfaatan bangunan tradisional jineng atau lumbung padi sebagai bagian dari desain akomodasi.

Meski optimistis, Made Abdi Arta manager Bali Hidden Space dan pelaku pariwisata di Desa Lemukih menilai tantangan terbesar pariwisata Bali Utara bukan lagi promosi, melainkan infrastruktur yang belum memadai.
“Banyak keluhan dari tamu itu sendiri soal infrastruktur. Kalau infrastrukturnya sudah bagus, aksesnya bagus, tidak mungkin kita tertinggal dari kota-kota lain seperti Denpasar, Kuta, Seminyak,” tegasnya.

Ia berharap perhatian terhadap Bali Utara semakin besar agar pembangunan pariwisata di Pulau Dewata tidak terus terpusat di wilayah selatan.
“Pariwisata Bali harus meningkat secara menyeluruh ke Singaraja ini, biar tambah populer di mata dunia. Jangan sampai berat sebelah,” katanya.

Di tengah derasnya persaingan industri wisata, suara dari Lemukih ini menjadi pengingat: Bali bukan hanya selatan. Di utara, ada alam yang masih asri, ada mimpi yang sedang dibangun, dan ada harapan agar pembangunan tak lagi berjalan timpang.

[ Editor: Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *