Denpasar, Balijani.id| Ni Luh Putu Putri Suastini Koster menghadiri Reuni Lintas Angkatan Alumni Tahun 1982, 1983, 1984, dan 1985 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana di Gedung Kertha Sabha, Minggu (10/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi lintas generasi alumni sekaligus ruang diskusi terkait berbagai persoalan ekonomi, budaya, dan lingkungan di Bali. Suasana reuni berlangsung hangat dengan dihadiri para alumni, akademisi, serta tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Putri Koster mengungkapkan rasa bahagianya dapat kembali bertemu dengan para alumni lintas angkatan FEB Unud. Ia menyebut reuni tersebut menjadi momen pelepas rindu sekaligus mempererat hubungan antarsesama alumni. “Ini kerinduan yang terpendam dari teman-teman. Ketemu di sini hari ini tidak ada lain yang kita sampaikan adalah kerinduan masing-masing di hati kita dan juga kebahagiaan kita ini,” ujarnya.
Sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Bali, Putri Koster juga menyoroti upaya penguatan ekonomi masyarakat melalui sektor UMKM dan industri kerajinan. Menurutnya, Dekranasda Bali selama ini terus melakukan pendampingan terhadap pelaku industri kecil dan menengah melalui program pameran IKM Bali Bangkit. Pendampingan tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk, sumber daya manusia, serta menjaga keberlanjutan warisan budaya Bali, khususnya kain tenun tradisional.
Namun demikian, ia mengungkapkan kondisi industri tenun Bali saat ini menghadapi tantangan serius. Berdasarkan hasil pengawasan yang dilakukan, sebagian besar kain Endek Bali yang beredar di pasar justru diproduksi di luar Bali. “Endek Bali yang sudah memiliki hak kekayaan intelektual komunal ternyata penjualannya hanya sekitar 17 persen yang benar-benar ditenun oleh penenun Bali. Sisanya diproduksi di luar Bali,” katanya.
Menurut Putri Koster, kondisi tersebut menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan industri tenun lokal Bali. Selain mengurangi lapangan pekerjaan bagi masyarakat Bali, perputaran ekonomi daerah juga dinilai ikut melemah karena keuntungan produksi mengalir ke luar daerah. “Yang paling membahayakan adalah suatu saat Endek Bali tidak lagi dikenal sebagai Endek Bali, tetapi menjadi Endek Troso atau Endek Jepara karena mereka lebih piawai memproduksi kainnya,” ucapnya.
Ia pun mendorong kalangan akademisi dan alumni FEB Unud ikut terlibat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan di Bali melalui penelitian dan kajian ilmiah. Menurutnya, hasil penelitian perguruan tinggi harus mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan ekonomi dan budaya daerah. Putri Koster berharap kolaborasi dengan lembaga penelitian daerah dapat memperkuat langkah penyelamatan industri lokal Bali.
Selain membahas ekonomi kreatif, Putri Koster juga menyinggung persoalan lingkungan, khususnya penanganan sampah di Bali. Ia menilai praktik pembuangan sampah terbuka atau open dumping masih menjadi masalah serius yang belum terselesaikan hingga saat ini. “Undang-undang sudah jelas melarang open dumping, tetapi praktik itu masih terjadi hingga sekarang. Untuk mengubah pola pikir yang sudah berlangsung puluhan tahun memang tidak mudah, tetapi kita harus sabar,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Putri Koster juga mengajak masyarakat menjaga kelestarian bunga kasna atau edelweiss Bali yang tumbuh di kawasan Temukus, Besakih. Ia berharap masyarakat tetap mempertahankan budidaya tanaman tersebut karena memiliki nilai budaya dan ekonomi bagi warga setempat. Menurutnya, pengelolaan kasna melalui koperasi dapat menjadi solusi menjaga stabilitas harga sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
Sementara itu, perwakilan alumni FEB Unud menyampaikan apresiasi atas dukungan dan fasilitas yang diberikan dalam pelaksanaan reuni lintas angkatan tersebut. Alumni berharap reuni tidak hanya menjadi ajang temu kangen, tetapi juga wadah kolaborasi dan kontribusi nyata bagi pembangunan Bali. “Reuni ini bisa menjadi sarana komunikasi dan kolaborasi untuk memberikan sumbangsih terbaik bagi Bali,” katanya.
[ Editor : Sarjana ]













