Badung, Balijani.id| Peringatan Hari Arak Bali Tahun 2026 menjadi tonggak penting perjalanan Arak Bali menuju pengakuan yang lebih luas. Digelar di The Westin Resort Nusa Dua, Mangupura Hall, Kamis (29/1/2026), peringatan ini tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum strategis penguatan legalitas, tata kelola, dan arah besar industri Arak Bali.
Acara yang digelar atas kolaborasi Pemerintah Provinsi Bali bersama Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali/Bali Tourism Board (BTB) ini dihadiri sekitar 500 pemangku kepentingan, mulai dari petani, koperasi, produsen, distributor, pelaku pariwisata, hingga regulator dan kementerian terkait. Hadir langsung Gubernur Bali Wayan Koster bersama Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny. Putri Koster, serta perwakilan Kementerian Perindustrian RI yang diwakili Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika.
Salah satu momen krusial dalam peringatan ini adalah penyerahan izin produksi Arak Bali dari Kementerian Perindustrian RI kepada Pemerintah Provinsi Bali. Izin tersebut diserahkan secara simbolis kepada Gubernur Bali Wayan Koster, menandai babak baru legalitas industri Arak Bali.
Dalam sambutannya, Gubernur Koster menegaskan bahwa perjuangan panjang Arak Bali kini telah membuahkan hasil. Sejak diterbitkannya Pergub Bali Nomor 1 Tahun 2020 tentang Tata Kelola Minuman Fermentasi dan/atau Destilasi Khas Bali, pengrajin arak dapat berproduksi dan beredar secara legal, tertib, serta terukur.
“Arak sekarang beredar dengan tata kelola yang diizinkan. Ini ekonomi kerakyatan yang harus kita jaga,” tegas Wayan Koster.
Ia juga mengisahkan perjalanan Arak Bali yang sempat menjadi perbincangan luas saat pandemi Covid-19. Menurutnya, kearifan lokal Bali kala itu memberi semangat bagi masyarakat untuk tetap bertahan.
“Kalau minum arak baik-baik, setengah sloki, dicampur kopi, kopi arak tanpa gula, tidak kena Covid. Viral itu. Saya dibully, tapi saya tidak takut, karena saya berpikir untuk ekonomi kerakyatan,” ujarnya, disambut tawa dan tepuk tangan hadirin.
Perkembangan Arak Bali saat ini dinilai sangat pesat. Tercatat sudah ada 58 merek Arak Bali yang berkembang, dan produk lokal ini mulai menguasai pasar strategis, termasuk di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
“Di keberangkatan internasional, produk arak dari Lovina menjadi best seller, bahkan mengalahkan Red Label. Dalam satu bulan bisa habis 6.000 sampai 7.000 botol,” ungkap Koster.
Pada peringatan Hari Arak Bali ke-6 ini, terbitnya izin industri dari Kementerian Perindustrian disebut sebagai kado besar bagi masyarakat Bali. Dengan izin tersebut, koperasi produsen akan bernaung di bawah Perumda Kertha Bali Saguna dan dikelola oleh PT Kanti Barak Sejahtera, sehingga produksi dan distribusi dapat berjalan lebih sehat, terukur, dan berkelanjutan.
“Harapannya produksi meningkat, produktivitas naik, dan daya saing Arak Bali semakin kuat. Ini memperkuat UMKM Bali dari hulu ke hilir,” jelasnya.
Gubernur Koster pun menegaskan target besar menjadikan Arak Bali sebagai spirit ketujuh dunia. Menurutnya, seluruh perangkat sudah tersedia, mulai dari regulasi, sertifikasi HKI, badan usaha daerah, hingga izin industri.
“Perjuangan kita hampir tuntas. Ini kemajuan luar biasa,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Koster menekankan penguatan ekosistem bahan baku melalui penanaman kelapa genjah sebagai langkah strategis jangka panjang.
“Kami akan tanam kelapa genjah maksimal empat meter. Tiga sampai empat tahun sudah panen. Ini bagian dari memperkuat ekosistem Arak Bali,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Arak Bali 2026, Ida Bagus Agung Partha Adnyana, menyebut peringatan tahun ini sebagai titik balik gerakan kolektif mengangkat Arak dan Brem Bali sebagai produk budaya unggulan.
“Ini bukan perayaan biasa, tetapi forum konsolidasi dan titik balik lompatan awal gerakan bersama,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa saat ini terdapat 58 brand Arak Bali yang dinaungi 18 koperasi. Menurutnya, pencapaian ini tidak hanya mengangkat nilai ekonomi, tetapi juga martabat pengrajin lokal.
“Enam tahun lalu dimulai perjalanan besar mengangkat Arak Bali dari ruang informal menjadi produk budaya yang sah dan formal,” ungkapnya.
Dengan penguatan kualitas, tata kelola, dan identitas bersama, Arak Bali kini melangkah mantap dari warisan lokal menuju panggung dunia. Peringatan Hari Arak Bali 2026 pun menjadi penanda penting bahwa Arak Bali tidak lagi sekadar tradisi, melainkan simbol kebangkitan ekonomi, budaya, dan kemandirian Bali.
[ Editor : Sarjana ]














