News  

Narasi Sesat Fitnah Ibu Putri Koster, Ketua dan Pengurus PWRI Bali Minta Maaf

Denpasar, Balijani.id| Kegaduhan yang sempat viral di media sosial terkait PWRI Bali dan Kantor Kesbangpol akhirnya terjawab. Ketua PWRI Bali bersama pengurus dan penasehatnya secara resmi menyampaikan permohonan maaf pada Minggu sore (15/3/2026) kepada Ibu Putri Koster atas narasi yang berkembang dan sempat menyeret nama beliau di ruang publik.

Kronologinya bermula saat PWRI berencana menggelar kegiatan pada Sabtu, 14 Maret 2026 di Kantor Kesbangpol Bali. Namun pada hari tersebut kantor memang tidak beroperasi karena hari libur.
Selain itu, terdapat pula surat edaran dari Kementerian Dalam Negeri yang mengatur agar tidak dilaksanakan kegiatan diluar kedinasan pada hari Sabtu dan Minggu.

Hal ini sebenarnya sudah disampaikan sebelumnya oleh pihak Kesbangpol kepada sekretaris dan Ketua PWRI Bali. Namun karena sebagian pihak tetap datang ke lokasi saat kantor dalam keadaan terkunci, situasi di depan kantor sempat menimbulkan keramaian.
Sayangnya, potongan kejadian tersebut kemudian direkam, dipelintir, dan disebarkan di media sosial dengan narasi yang tidak utuh.

Bahkan, dalam beberapa unggahan, nama Ibu Putri Koster ikut diseret dan difitnah, seolah-olah Beliau menjadi pihak yang bertanggung jawab atas situasi tersebut.

Kini fakta sebenarnya telah terungkap. Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Ketua PWRI Bali secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada Ibu Putri Koster atas kegaduhan yang terjadi serta atas narasi yang berkembang di media sosial.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bagi kita semua bahwa media sosial bukan ruang bebas untuk menebar tuduhan tanpa dasar. Satu potongan video, satu narasi yang diplintir, bisa merusak nama baik seseorang yang sama sekali tidak terkait.

Bali dikenal dengan nilai tatwam asi, etika, dan keharmonisan. Karena itu, siapa pun yang dengan sengaja menyebarkan fitnah atau informasi menyesatkan harus siap mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Fakta sudah jelas. Klarifikasi sudah disampaikan. Permohonan maaf pun sudah dilakukan. Kini publik bisa menilai sendiri, mana fakta dan mana sekadar narasi yang sengaja digiring untuk menciptakan kegaduhan.

[ Editor : Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *