News  

Desa Adat Buleleng Apresiasi Gubernur Bali Wayan Koster, Sinergi Adat dan Pemerintah Menguat

Buleleng, Balijani.id| Penguatan desa adat di Bali tidak hanya berhenti pada regulasi, tetapi nyata dirasakan hingga ke tingkat banjar. Di Desa Adat Buleleng, dukungan Pemerintah Provinsi Bali dinilai telah memberi dampak langsung, mulai dari penataan setra, penguatan pecalang, hingga pengembangan ruang-ruang budaya berbasis warisan lokal.

Hal tersebut disampaikan Kelian Desa Adat Buleleng, Ir. I Nyoman Sutrisna, M.M., MBA, dalam rangkaian kegiatan adat di wilayah Desa Adat Buleleng. Ia menyampaikan kebanggaan masyarakat adat terhadap kepemimpinan Gubernur Bali Wayan Koster yang dinilai dekat dengan desa adat dan memahami kebutuhan riil di lapangan.

“Kami sebagai krama Desa Adat Buleleng sangat berbangga memiliki Bapak Gubernur. Beliau duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dengan masyarakat,” ujar Nyoman Sutrisna.

Ia menyebut, perhatian Gubernur Bali bersama Bupati Buleleng dan jajaran pemerintah telah diwujudkan dalam berbagai bentuk dukungan konkret. Salah satunya penataan setra Desa Adat Buleleng yang dilakukan dengan konsep Tri Hita Karana, sebagai bentuk harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan.

Menurutnya, dukungan itu juga tampak jelas saat pelaksanaan Piodalan Ageng di Pura Segara. Pada kesempatan tersebut, Gubernur Bali secara spontan memberikan perhatian khusus kepada pecalang Desa Adat Buleleng yang berjumlah 503 orang dari 14 banjar adat.

“Bapak Gubernur saat itu langsung berkomunikasi dengan rekan-rekan beliau, dan akhirnya Peronda Kerta Bali Saguna memberikan bantuan dana sebesar Rp265 juta,” ungkapnya.

Dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan pakaian pecalang. Meski tahap awal baru terealisasi 353 set pakaian, Desa Adat Buleleng terus mendorong pemenuhan kebutuhan seluruh pecalang, termasuk prajuru adat dan petugas parkir, sebagai bagian dari penguatan sistem pengamanan adat.

Nyoman Sutrisna menegaskan, sinergi antara desa adat, Pemerintah Provinsi Bali, dan Pemerintah Kabupaten Buleleng menjadi kunci keberhasilan pembangunan berbasis budaya.

Dukungan tersebut, kata dia, juga diperkuat dengan bantuan lain seperti pembangunan Rumah Pohon, yang dirancang sebagai ruang pemantauan sekaligus simbol sejarah dan edukasi generasi muda.

“Konsep heritage yang didorong Bapak Bupati kami sambut dengan menggali potensi di masing-masing banjar adat, apa yang menjadi tulang punggung tradisi dan identitas kami,” katanya.

Ia juga menyoroti peran generasi muda adat (yowana) yang mulai aktif mengembangkan kreativitas budaya. Salah satunya melalui Festival Pengurukan Kedua, yang menghadirkan tokoh-tokoh cerita khas masing-masing banjar adat sebagai media edukasi dan pelestarian tradisi.

Desa Adat Buleleng berharap sinergi yang telah terbangun ini terus berlanjut dan menguat. Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat adat, Desa Adat Buleleng optimistis mampu menjaga tradisi sekaligus bergerak maju mengikuti perkembangan zaman, tanpa kehilangan jati diri.

[ Editor : Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *