News  

Bupati Ngada Lepas Mahasiswanya ke Jepang

Denpasar, Balijani.id| Bupati Ngada, Flores, NTT,  Raymundus Bena melepas 2 mahasiswa ITB STIKOM Bali asal Kabupaten Ngada, Sanjose Diego Sastronugroho Tambus dan Christianus Vieri Salam Koeng, terbang ke Jepang untuk mengikuti program kuliah sambil magang di Jepang. Acara yang digelar di STIKOM Bali Convention Center, Renon, Denpasar, Rabu (5/02/2026) ini diikuti seluruh mahasiswa Ngada yang merupakan kerja sama resmi Pemda Ngada dengan ITB STIKOM Bali. Acara ini digabung dengan melepas 7 mahasiswa ITB STIKOM Bali ke Jepang yang menjalani masa karantina di LPK Dwipahara, Bangli.

“Kerja sama ini terbesit sekitar 4 tahun lalu ketika saya didatangi oleh Pak Rahman (Rahman Sabon Nama-red) dan tim dari STIKOM Bali, menjelaskan tentang program kuliah sambil magang di Jepang. Cuma waktu itu saya masih wakil bupati sehingga belum terealisasi, kemudian tahun lalu saya menjadi bupati sehingga saya melihat ini menjadi program unggulan saya dan Pak Wakil (Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhae-red),” kata Raymundus Bena yang memberikan sambutan dalam 2 bahasa, Indonesia dan Inggris untuk menghormati Mr. Pasquarleh, salah satu pimpinan LPK ACE Indonesia sebagai lembaga pengirim peserta magang ke Jepang.

Singkat cerita, per 15 Juli 2025  bertempat di halaman Kantor Bupati Ngada, Bajawa, Bupati Ngada Raymundus Bena dan Wakil Bupati Ngada Bernadinus Dhae secara resmi melepas  38 mahasiswa ke ITB STIKOM Bali untuk menjalani program kuliah sambil magang di Jepang. Sebelumnya, 11 mahasiswa sudah ada di Bali.

“Sehingga total anak-anak kami peserta program kuliah magang di Jepang sebanyak 49 orang,” kata Ray Bena.

Dengan melepas 2 mahasiswa hari ini maka total 3 mahasiswa Ngada sudah ada di Jepang. Sebelumnya, Pius Fernando Wou, asal Desa Beiposo, Bajawa, pada 1 Juli 2025 sudah terbang ke Yamanashi, Jepang.
Kepada mahasiswa yang belum lulus interview dengan user Jepang Ray Bena memotivasi mereka agar tetap bersemangat, tingkatkan terus kemampuan berbahaas Jepang dan selalu ikuti aturan di LPK ACE Indonesia.

“Jangan patah semangat, terus balajar Bahasa Jepang dan  mengikuti kuliah seperti biasa,” kata Ray Bena.

Direktur LPK ACE Indonesis Mr. Pasquarleh dalam sambutannya tak lupa berterima kasih kepada Pemda Ngada dan ITB STIKOM Bali yang mempercayakannya sebagai lembaga pengiirim. Dia mengaku awalnya ada kesulitan dalam pembelajaran Bahasa Jepang karena anak-anak datang dengan budaya yang berbeda dengan situasi pendidikan di lembaganya yang sudah bergaya Jepang, semuanya serba disiplin.

“Tapi syukurlah sekitar 50 persen sudah dapat job ke Jepang,” kata Arleh, panggilannya, yang berbicara dalam bahasa Inggris.

Direktur PT Mitra Bisnis Ciptakarya-unit usaha STIKOM Bali yang mengelola mahasiswa kuliah sambil magang di luar negeri, Yusar Hilmi melaporkan,  atas kerja sama yang baik dengan LPK ACE Indonesia sehingga total anak-anak Ngada yang terbang ke Jepang hari ini hingga bulan Maret 2026 sebanyak 12 orang.

Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan dalam sambutannya memotivasi  para mahasiswa peserta program kuliah sambil magang di Jepang karena mereka sudah memiliki kelebihan lain dibandingkan mahasiswa yang hanya mengikuti kuliah saja di Indonesia, termasuk di perguruan tinggi negeri sekalipun.

“Bandingkan dengan teman anda yang kuliah saja di Indonesia, setelah tamat, dia masih cari kerja lagi, kirim-kirim email lamar kerja. Tapi Anda kalau di Jepang, masih kuliah, dapat gelar sarjana, sudah punya uang, bisa biayai kuliah sendiri dan membantu keluarga,” kata Dadang Hermawan.

Sanjose Diego Sastronugroho Tambus yang diberi kesempatan memberikan testimoni mengatakan, sangat berterima kasih kepada Pemda Ngada, DPRD Ngada, ITB STIKOM Bali dan LPK ACE Indonesia karena sudah memfasilitasi keberangkatan mereka ke Jepang.

“Jujur Pak Bupati, orangtua kami dari Bajawa, kami semua dari kampung, tidak tahu apa-apa tentang Bahasa Jepang, dari nol, sampai di sini digodok dari pagi sampai sore, lalu malamnya mengikuti kuliah secara online, hingga kami sampai di titik ini. Saya dan teman saya Christianus Vieri sangat bersyukur karena dari 38 anak-anak Ngada yang tiba di Bali pada 15 Juli 2025, tidak sampai 8 bulan kami akhirnya yang pertama berangkat ke Jepang,” kata Diego.

Usai acara pelepasan, Bupati Ray Bena mengunjungi kantor LPK CE Indonesia sekaligus berdialog  dengan anak-anak Ngada yang sedang mengikuti kursus Bahasa Jepang. Beberapa anak Ngada kemudian dipersilahkan memperkenalkan diri (jikoshokai) dalam Bahasa Jepang.

“Saya tidak mengerti Bahasa Jepang, tapi dari gestur tubuh mereka saya yakin mereka sudah paham sekali. Mereka sudah jauh berbeda,  kalau saya bandingkan ketika mereka masih ada di Ngada,” puji Ray Bena.

Terpisah, orangtua Christianus Vieri Salam Koeng tak henti-hentinya menyampaikan rasa syukur dan terima tak terhingga kasih kepada Pemda Ngada, DPRD Ngada, ITB STIKOM Bali dan LPK ACE yang telah membuka jalan anak-anak ke Jepang.

“Perasaan kami senang, bahagia dan sedih. Senang dan bahagia karena anak saya bisa bisa berangkat sekarang, Tapi kami sedih karena tidak bisa hadir di Bali, antar anak ke Jepang.  Saya hanya seorang ibu rumah tangga, suami hanya petani. Tapi kami bersyukur Pak Bupati sudah hadir memberikan penguatan kepada anak-anak kami,” kata Emirensiana Moi, ibunda Christianus Vieri, asal Desa Tanalodu, Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.

Ibu Emirensiana dan suaminya, Yohanes Donbosco Koeng sangat berharap Vieri dan Diego bisa menjalani magang dengan baik dan tetap mengikuti kuliah selama 3 tahun di Jepang demi masa depan mereka.

“Anak saya 6 orang, Vieri anak ke-5. Mungkin ini jalan Tuhan membantu keluarga kami.” tutup Emirensians Moi, dengan suara terbataa-bata menahan haru.

Hal senada juga disampaikan  Fabianus Sebastianus Pesek, ayah Sanjose Diego Sastronugroho Tambus. ASN di Dinas Pertanian Kabupaten Ngada, asal Desa Ngedukelu, Kecamatan Bajawa, ini awalnya berkeinginan datang ke Bali agar bisa ikut mengantar anaknya terbang ke Jepang. Namun karena ada tugas dinas yang tidak bisa ditinggalkan sehingga dia tak bisa hadir. Meski begitu melalaui komunkasi telepon semalam, dia sudah memberikan motivasi kepada Diego agar selama 3 tahun di Jepang tetap mengikuti aturan Pemerintah Jepang, jaga nama Indonesia, jaga nama baik Ngada, nama baik keluarga, dan lembaga yang mengirim.

“Pada kesempatan ini saya dan keluarga menyampaikan rasa terima kasih banyak kepada Pemda Ngada, DPRD Ngada, ITB STIKOM Bali dan LPK ACE Indonesia serta Pak Stanis  Soly dan Tim Desk Beasiswa  Pemda Ngada, yang telah membuka jalan dan membimbing anak-anak Ngada sehingga anak-anak kami bisa terbang ke Jepang. Saya berharap anak-anak lain yang masih di Bali tetap semangat karena mereka semua sudah berada di track yang benar, yang penting banyak sabar dan ikuti aturan yang ada,” pungkas Fabiansu Sebaastianus Pesk yang beristrikan wanita Madiun, ibu Angela Sulistyo Nugraheni. Pantesan,  nama anaknya Sanjose Diego ada unsur Jawa, Sastronugroho.

[ Editor : Sarjana ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *