Buleleng, Balijani.id| Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat siaran televisi digital, tetapi juga dirancang sebagai infrastruktur strategis multifungsi yang mendukung penyiaran, pariwisata, dan penguatan ekonomi Bali utara. Seluruh stasiun TV digital di Bali telah terpusat dan bersiaran melalui tower yang berlokasi di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.
Sentralisasi siaran ini menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Bali membangun sistem penyiaran digital yang lebih efisien dan stabil. Dengan seluruh siaran terpusat, kualitas penerimaan diharapkan lebih merata, termasuk di wilayah Bali utara yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses siaran
“Semua siaran TV digital Bali sekarang terpusat di Turyapada,” kata Gubernur Bali Wayan Koster.
Koster menjelaskan, pembangunan Turyapada Tower berawal dari aspirasi masyarakat Buleleng yang selama ini mengalami kesulitan menikmati siaran televisi secara optimal. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah menghadirkan infrastruktur penyiaran dengan jangkauan luas dan sistem yang lebih andal
“Banyak wilayah di Bali utara sebelumnya tidak bisa menikmati siaran TV dengan baik,” ujarnya.
Namun, Koster menegaskan Turyapada tidak dirancang sebagai menara penyiaran biasa. Sejak awal, tower ini diproyeksikan sebagai aset daerah yang produktif dan memberi nilai tambah jangka panjang.
“Saya tidak mau bangun tower biasa yang hanya menghabiskan uang dan tidak produktif. Turyapada harus multifungsi. Bukan hanya penyiaran, tapi juga pariwisata dan ekonomi,” kata Koster.
Secara teknis, Turyapada Tower menjadi bagian dari single frequency network pertama di Indonesia. Sistem ini memungkinkan jangkauan siaran televisi digital lebih luas dan stabil. Tower berdiri di ketinggian 1.521 meter di atas permukaan laut dengan tinggi bangunan mencapai 115 meter, sehingga mendukung optimalisasi jaringan penyiaran.
Pemilihan lokasi tower, lanjut Koster, telah melalui kajian akademis Universitas Udayana. Kajian tersebut memastikan pembangunan dilakukan sesuai tata ruang dan tidak berada di kawasan suci.
“Ini hasil studi, bukan sembarangan. Tata ruangnya memungkinkan dan tidak masuk kawasan suci,” ujarnya.
Selain fungsi penyiaran, kawasan Turyapada juga dikembangkan sebagai destinasi wisata unggulan Bali utara. Sejumlah fasilitas disiapkan, antara lain planetarium, restoran putar, restoran statis, skywalk, jembatan kaca, area UMKM, serta dua ruang pertemuan. Pengembangan kawasan ini diharapkan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.
Pembangunan Turyapada Tower ditargetkan rampung dan diresmikan pada Desember 2026. Pengerjaan interior tower ditargetkan selesai pertengahan 2026, dilanjutkan penataan kawasan, akses jalan, serta pembangunan gondola yang masih dalam proses tender.
“Targetnya diresmikan Desember 2026. Total anggarannya hampir Rp 600 miliar,” kata Koster.
Ia menambahkan, investasi tersebut diproyeksikan kembali dalam waktu kurang dari tujuh tahun. Selain itu, keberadaan Turyapada diharapkan memberi manfaat langsung bagi masyarakat, mulai dari perluasan jangkauan siaran hingga kontribusi ekonomi daerah.
“Jangkauan siarannya lebih dari 90 persen, sampai Jembrana bahkan Banyuwangi,” imbuhnya.
Melalui fungsi penyiaran yang terpusat, pengembangan pariwisata, serta peluang ekonomi baru, Turyapada Tower diharapkan menjadi salah satu penggerak pertumbuhan Bali utara sekaligus memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Buleleng.
[ Editor : Sarjana ]














