Menu
Berita Sarin Gumi Nusantara

Kisah Inspiratif Siswati Budasari, Owner R Cemerlang

  • Bagikan

Buleleng, Balijani.id – Kisah sosok saat ini figur perempuan tangguh Buleleng. Selain dikenal dermawan dan murah hati, ia juga seorang pengusaha wanita inspiratif.

 “Di setiap kesulitan, pasti ada saja sesuatu yang dapat membuat kita merasa bersyukur,” mungkin ini adalah kalimat yang bisa menggambarkan situasi pada hari Selasa, 4 Juni 2024 di klenteng Seng Hong Bio Singaraja.

Ditempat ibadah tersebut lso Ay Hwa atau yang akrab disapa Aay, wanita yang memiliki kisah inspiratif dan penuh kesabaran dan ketabahan dalam menjalani kehidupan. Sedari kecil hidupnya penuh penderitaan.

Karena kisah hidupnya yang penuh kesabaran dan ketabahan itu, akhirnya membuat hati seorang pengusaha tergerak untuk memberikan sedikit bantuan kepadanya.

Pengusaha itu bernama Siswati Budasari. Beliau merupakan asli orang Jawa namun menikah dengan orang Bali. Suaminya itu berasal dari Desa Tamblang, Kecamatan Kebutambahan, Buleleng.

Tapi sang suami telah berpulang 5 tahun lalu.

Beliau memberikan bantuan berupa satu karung beras (25 kg) kepada Aay. Sederhana baginya tapi tentu sangat berarti bagi Aay.

Wanita 48 tahun itu merasa sangat bersyukur dengan pemberian Ibu Siswati, karena ia biasanya baru akan mendapatkan sembako atau beras dari klenteng pas hari raya Imlek. Sehingga wanita yang di KTP-nya bernama Wayan Sudiasih itu terharu tatkala menyampaikan rasa terima kasihnya.

Pertemuan singkat itu dilanjutkan dengan saling bertukar pengalaman tentang masa lalu mereka.

Dimulai dari perjalanan hidup Siswati yang juga melewati banyak rintangan. Dimulai dari penjual tiket bus malam di Surabaya.

Dilanjutkan olehnya, setelah menikah dengan pemuda asal Tamblang, bermodal Rp 60 ribu hingga sukses dan memiliki banyak karyawan seperti sekarang. Beliau adalah pemilik usaha konveksi R. Cemerlang Singaraja, yang karyawannya mencapai sekitar 85 orang.

Karena pernah melewati masa-masa sulit, beliau mengaku sering membantu orang yang kesusahan.

“Walau bantuan kami sedikit, namun itu berarti bagi mereka. Kadang kalau ada pengamen di pinggir jalan, belum nyanyi saja saya sudah memberinya uang. Ya, Rp 5 ribu misalnya,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, memberi lebih berarti daripada menengadahkan tangan dan Siswati sangat kuat memegang prinsip hidup yang demikian itu.

 “Lebih baik memberi daripada menerima,” ujarnya. Itulah prinsip yang tertanam kuat pada diri Ibu Siswati.

Wanita itu percaya saat kita ikhlas memberi, rejeki pasti akan datang menghampiri kita. Sikap dermawan ternyata Siswati sudah tertanam sejak dulu.

Hatinya selalu tergerak untuk memberikan bantuan kepada orang lain. Ya, memberi uluran tangan kepada orang lain. Bahkan ia mengaku sikap dermawan ini telah menurun ke anak-cucunya.

Pertemuan singkat tapi sangat bermakna itu memberi pelajaran bagi kita untuk jangan ragu berbagi kepada sesama.

Moral lesson yang dapat kita petik adalah Karena sekecil apapun bantuan yang kita berikan akan sangat berarti bagi yang menerimanya.

Reporter : Sarjana

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *