Berita Sarin Gumi Nusantara
RedaksiIndeks
News  

Ray Yusha: Sang Natha di Buka untuk Edukasi

Caption: Nyoman Ray Yusha Berkunjung di Museum Rempah Sang Natha di terima oleh Gede Kresna Direktur Museum Rempah Sang Natha dan Made Arnaja Tokoh Agro Wisata, Minggu ( 26/3/2023 )

Buleleng, Balijani.id ~ Nyoman Ray Yusha sangat bangga Buleleng kini memiliki satu museum baru, yakni Museum Rempah Sang Natha yang berlokasi di Desa Mengening, Kecamatan Kubutambahan dalam kunjungannya, Minggu ( 26/3/2023 )

Museum yang mengoleksi seratusan jenis tanaman rempah ini resmi dibuka pada tahun 2019. Museum Rempah Sang Natha didirikan sebagai pusat informasi sekaligus studi khasanah tanaman rempah, khususnya di Buleleng.

Berdiri di atas lahan sekitar 1,2 hektare, Museum Rempah Sang Natha memiliki sedikitnya 130 jenis tanaman rempah. Bukan hanya tanaman rempah dari Buleleng dan Bali, berbagai jenis tanaman rempah dari Indonesia timur hingga India, disajikan di museum ini. Museum Rempah Sang Natha digagas dan didirikan oleh dua bersaudara Made Suyasa Wijaya Dwijaksara dan Gede Kresna.

Made Suyasa Wijaya menjelaskan, pembangunan Museum Rempah Sang Natha telah direncanakan sejak 6 tahun lalu. Mulai dari pembangunan rumah singgah hingga melengkapi tanaman rempah sesuai dengan standar minimal untuk pembangunan museum. Pembangunan museum ini didasari ketertarikannya dengan tanaman rempah yang memiliki sejarah panjang di Nusantara.

Kata Made Suyasa Wijaya, begitu pentingnya rempah yang memiliki nilai ekonomi tinggi, membuat Nusantara secara bergantian dikuasai oleh bangsa-bangsa Eropa pada zaman dahulu.

“Saya mengawali dengan belajar tentang rempah-rempah, lalu berdiskusi dengan teman-teman yang mengerti tentang rempah. Kemudian saya putuskan untuk mendirikan museum ini,” jelas Made Suyasa Wijaya.

Made Suyasa Wijaya menyampaikan, museum rempah ini dibangun di atas lahan cengkih peninggalan keluarga.

“Sebagai bentuk penghargaan kepada kakek kami, Natha, yang mewariskan lahan perkebunan cengkih ini ke ayah kami, kemudian meneruskan ke kami, maka museum rempah ini dinamakan Museum Rempah Sang Natha,” tutur Made Suyasa

Konsep Museum Rempah Sang Natha, lanjut Made Suyasa Wijaya, terus dibahas dan dimatangkan. Di masa yang akan datang, di Museum Rempah Sang Natha juga akan dilakukan beberapa proses yang bisa langsung dilihat oleh pengunjung sekaligus dikemas sebagai buah tangan. Pengelola museum juga merancang sejumlah workshop yang menggunakan rempah-rempah seperti workshop kuliner hingga workshop pewarna alami.

 

Harapannya, Museum Rempah Sang Natha bisa menjadi model kepariwisataan masa depan yang menekankan titik keunggulan pada edukasi, berkegiatan di luar ruangan, mengunakan bahan-bahan lokal, dan sarat dengan aktivitas yang mengesankan.

“Ini menjadi poin penting untuk menjaga kelangsungan museum rempah sehingga tetap berimbang mengusung semangat edukasi dan pariwisata,” tandas dia.

Sementara itu, Nyoman Ray Yusha sebagai anggota DPRD Provinsi Bali Fraksi Gerindra mengatakan, sangat mengapresiasi pembangunan Museum Rempah Sang Natha. Menurutnya, keberadaan museum rempah ini, akan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat mengenai rempah-rempah, khususnya bagi generasi milenial.

“Kehadiran museum ini semoga bisa menjadi sarana edukasi tentang tanaman rempah-rempah. Hal ini mengingat banyak di antara anak-anak saat ini tidak mengetahui jenis-jenis rempah yang ada. Serta menjadi alternatif wisata edukasi yang menjanjikan,” kata Ray Yusha.

[ BJ/TIM ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *