Menu
Berita Sarin Gumi Nusantara

Alit Widana, dari Polisi Berprestasi hingga Niat Murnikan Hindu

  • Bagikan
Caption : Brigjen Pol ( Purn ) Alit Widana, SH, MSi

Denpasar, Balijani.id – Brigjen Pol (Purn) Alit Widana, SH MSi, putra Bali kelahiran Desa Penarukan, Kerambitan, Tabanan ternyata sosok yang sarat pengalaman seantero wilayah Indonesia memiliki seabreg suka dan duka saat melaksanakan tugas hingga purnatugas pada bulan Maret tahun 2019 lalu.

Ditemui awak media Senin (4/4/2022) di kantornya Rekonfu Law Firm 87 (Dewan Pengurus Daerah Bali) jalan Ciung Wanara, Denpasar, Alit Widana menceritakan pada menjelang akhir masa tugas di daerah Bali sebagai Kabag Ops. Polda Bali kemudian sebagai Kapolres Tabanan hampir 2 tahun dari tahun 2004 sampai 2006 awal.

Selanjutnya ia menjabat sebagai Kapolres Gianyar dan tahun 2008 sampai 2011 menjadi Kapoltabes Denpasar kemudian sekolah Sespati ditugaskan di daerah operasi Sulawesi Tenggara. Kemudian kembali ke Bali menjadi Karo Ops Bali mengamankan KTT OPEC di situ mendapat kesempatan berfoto bersama Presiden Amerika Serikat Barack Obama.

“Presiden Amerika Barack Obama mengundang saya karena selama kunjungan beliau di Bali beliau bersama staf merasa nyaman di Bali,” ungkap Alit Widana.

Pengalaman yang menarik selama bertugas di Bali adalah saya diplonco dengan beberapa kasus desa adat di Desa Yang Api di Abiantuwung, Tabanan di mana antara kelompok besar dengan kelompok kecil saling bertentangan. Kelompok kecil ada meninggal tidak bisa dikubur selama seminggu sehingga waktu ada ketegasan dari Bupati Tabanan Adi Wiryatama memberikan kuburan, dan kita amankan sampai selesai.

Pengalaman ini juga dialami waktu bertugas sebagai Kapolres Gianyar ada kasus di Pengosekan antara Desa Muluk Babi dengan Desa Mas dan Desa Pengosekan di mana mayat selama seminggu tidak bisa dikubur. Hampir ada bentrokan antara Desa Mas dengan Pengosekan tetapi detik- detik terakhir dapat diselesaikan dengan damai.

“Saya juga mendapat ujian di Gianyar pertentangan antara kelompok Ida Bagus Wedagama dengan dengan banjar setempat di Desa Tampak Siring sehingga terjadi bakar- bakaran. Sampai kelompok kecil IB Wedagama mengungsi ke Polsek. Ada laporan saya segera meluncur ke TKP ternyata saya yang pertama sampai bersama ajudan di mana seorang warga mau membakar rumah yang ada banyak tabung gas elpiji sedang pasukan datang belakangan,” sebutnya.

“Saya bilang silahkan kamu bakar tabung gas dan rumah itu. Kita mati bersama sehingga niat membakar rumah tersebut tidak sampai terjadi. Keadaan malam itu dapat dikuasai dan dikendalikan. Tindak lanjut penyidikannya saya harus menindak yang membakar itu dan muncul kata kalau berani polisi menindak dan menangkap kita serang Polres Gianyar,” tuturnya.

“Saya menyampaikan kepada masyarakat silahkan dan kami sudah siap. Tetapi kalau berbicara baik- baik datanglah dan akhirnya mereka datang dengan pakaian adat dan kita damaikan. Saya dengan salah satu tokoh masyarakat yaitu kelihan adat memberikan tempat mengubur dan sampai sekarang permasalahan tersebut tidak pernah muncul lagi,” kenangnya.

Nah itulah pengalaman- pengalaman saya selama bertugas di Bali dan setelah pensiun mengabdikan diri melayani umat. Terutama di lelintihan saya Mahawarga Bujangga Waisnawa sebagai Ketua Imum Moncol Pusat Maha Warga Bujangga Waisnawa secara seluruh Indonesia

Dalam perkembangan selanjutnya saya mendapat ajakan untuk berjuang bersama akan pemurnian Hindhi Dresya Bali dan itu sangat benar sekali bahwa agama Hindu yang sudah menjadi kesepakatan leluhur atau nenek moyang kita harus ditegakan dari pengaruh- pengaruh yang dapat merugikan kita dalam kehidupan selanjut[nya

Setelah berdiskusi terutama tentang keberadaan Hare Krisna dan Sampradaya sudah mendapat keputusan Jaksa Agung tahun 1984 bahwa mereka dilarang tetapi dalam pelaksanaanya mereka tetap diayomi oleh agama Hindu

Sekarang kita ingin memurnikan ajaran Hindu dari pengaruh- pengaruh Sampradaya dengan tujuan untuk mengeluarkan dan tidak mengayomi Sampradaya Hare Krishna dan Sai Baba dibawah agama Hindu dan biarkan saudara- saudara kita yang bergabung di Hare Krishna dan Sai Baba mengurus keperluanya sendiri apakah sebagai aliran atau agama di Departemen Agama.

Intinya tidak nyantol di agama Hindu dan itu merupakan prinsip – prinsip prinsip perjuangan kita dalam rangka mengajarkan Hindu Dresta Bali dan dan memurnikan Agama Hindu dan sampai sekarang dirinya aktif di dalam pergerakan tersebut

“Pengalaman selama bertugas hal- hal menyedihkan suka duka lara pati memang selalu ada ketika bertugas sebagai Wakapolres di Labuhan Batu, Asahan, Sumatra Utara saya mengalami kecelakaan di tengah kebun Sawit dan menderita luka di kepala dengan 35 jaritan. Astungkara diberikan keselamatan hingga hari ini,” tutup Alit Widana. ( Tim/red )

 

Video YouTube BALI JANI : https://youtu.be/9lu5jxDOxtI

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *