Menu
Berita Sarin Gumi Nusantara

HARGA SEBUAH KEPEMIMPINAN

  • Bagikan
Caption. A.A Ngurah Rai Santika,Ketua Dewan Kehormatan DPD Partai Demokrat Bali

Oleh : A.A Ngurah Rai Santika
Dewan Kehormatan DPD Partai Demokrat Bali

 

Denpasar, Balijani.id – Setiap pencapaian berharga, mempunyai harga yang harus dibayar dengan kerja keras, kesabaran, imam dan daya tahan.
Kepemimpinan sejati selalu menuntut harga dari setiap individu, bahkan jika kepemimpinan itu dijalankan oleh orang yang paling matang dan stabil emosinya sekalipun.

Tampaknya sudah menjadi pendapat umum di dunia, bahwa semakin tinggi prestasi, semakin mahal pula harga yang harus dibayar. Demikian juga dengan kepemimpinan sejati. Sangat benar setiap pencapaian berharga harus dibayar dengan segala setimpal.

Seorang pemimpin sejati, tidak begitu saja datang. Keahlian profesional dalam kepemimpinan muncul melalui upaya tekun. Mari kita pertimbangankan beberapa aspek mahalnya harga yang harus dibayar oleh orang – orang yang menduduki jabatan kepemimpinan maupun yang ingin dicapainya

KRITIK

Kritik adalah sebuah harga mahal yang dibayar oleh para pemimpin. Jika seseorang tidak dapat mengelola kritik, hal itu berarti pada dasarnya ia belum matang secara emosional. Kekurangan ini pada akhirnya akan muncul dan menghalangi kemajuannya dan kelompoknya untuk mencapai tujuan bersama.Setiap pemimpin harus mengantisipasi beberapa hal semacam itu. Namun kritik bisa berujung pada kebaikan jika sang pemimpin mampu menerimanya.

Salah satu cara mengendali diri kita adalah umpan balik dari orang lain ( Kritik ). Kita akan benar – benar tidak tahu bagaimana kesan kita di mata orang lain, tanpa mereka memberitahukannya kepada kita. Oleh karena itu, kita membutuhkan tanggapan mereka melalui kritik.

” Terimakasih atas kritik anda dalam hidup saya. Hal ini telah membawa saya kepada introfeksi diri yang lebih mendalam, saya membutuhkannya, demikian seharusnya ungkapan yang tertanam dalam diri, ketika kita menerima kritik dari orang lain.

KELETIHAN

Seseorang berkata bahkan dunia ini dipimpin oleh orang – orang yang lelah. Barangkali ada hakekat nyata dari pernyataan ini. Sejatinya para pemimpin sejati harus bersedia bangun lebih awal dan belajar lebih lama daripada generasi mereka. Beberapa orang mempunyai stamina luar biasa, tetapi keletihan sering kali muncul dalam tanggung jawab kepemimpinan mereka.

Pemimpin yang bijaksana akan berusaha untuk menemukan keseimbangan dan mencari kesibukan lain, sebuah perubahan Irama hidup untuk mengurangi stress. Menepi sejenak, itu adalah pilihan untuk merefresh diri, melalui pendekatan spiritual ( Keimanan ). Kendati begitu, seseorang pemimpin harus siap untuk menerima harga yang harus dibayarnya, baik secara emosional maupun jasmaniah. Intinya, keseimbangan harus benar – benar diperhatikan, sehingga tidak terjebak oleh ” KELELAHAN ” perubahan irama merupakan kebutuhan mutlak seorang pemimpin.

WAKTU UNTUK BERFIKIR

Harga lain yang harus dibayar oleh para pemimpin adalah waktu yang harus disisihkan untuk berfikir kreatif dan merenung. Kita jarang menganggapnya sebagai harga yang harus dibayar, namun demikian adanya. Kebanyakan orang terlalu sibuk meluangkan waktu untuk benar – benar berfikir.

Demi satu tujuan, banyak pemimpin ingin gerak maju tanpa membayar harga untuk berfikir demi untuk mencapai tujuan. Benar, bahwa solusinya bukanlah bekerja lebih keras melainkan bekerja lebih cerdas.

Kebanyakan upaya yang berhasil hanya diraih setelah Berjam – jam pemikiran Mendalam dan penelitian yang cermat.

KESENDIRIAN

Harga ke empat yang harus dibayar oleh pemimpin yang jarang kita perhatikan adalah kesediaan untuk sendirian karena ia telah kehilangan kebebasannya dengan melayani orang lain .
Seorang pemimpin sejati mendukung minat, gagasan, dan cita – cita para anggotanya.
Pada saat yang sama, pemimpin yang efektif harus berjuang untuk menunaikan potensi, dan cita – citanya tanpa terserap kedalam kelompok. Ini membuatnya hidup dalam kesendirian yang seimbang,berada diantara dirinya dan kelompoknya, karena dia perlu memperhatikan orang lain sekaligus mengasingkan diri dari mereka.

Semua pemimpin tangguh bersikap demikian, karena mereka mampu menyamakan diri dengan kelompoknya, tanpa menjadi salah satu dari mereka. Seorang pemimpin (tim/red)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *